Topik
UNESCO Khawatirkan Rasisme dan Diskriminasi di Tengah Krisis
TEMPO Interaktif, Bandung - Jutaan orang di dunia masih menderita karena rasisme dan diskriminasi. Masalah itu muncul dalam bentuk kekerasan hingga dengan cara yang halus.
"Rasisme dan diskriminasi telah menjadi lebih halus, mereka sangat tertanam dalam tingkah laku kita," kata Assistant Director-General Social and Human Sciences UNESCO Pierre Sane, di Bandung, Rabu (29/10).
Selain dalam bentuk tradisional, pola-pola baru masalah rasisme dan diskriminasi berkembang terutama di kalangan pendatang, tenaga kerja asing, pengidap HIV/AIDS, dan masyarakat adat.
Hal itu disampaikan Pierre Sane saat berpidato membuka World Conference on the Coalition Cities Against Discriminations di Gedung Merdeka, Bandung, hari ini.
Dalam konferensi dua hari bertema Kota-kota Menghadapi Krisis Global itu, dia juga mengatakan masalah rasisme dan dikriminasi dikhawatirkan semakin menjadi karena krisis ekonomi dunia yang masih berlangsung sampai kini. Karena itu, UNESCO mengumpulkan para wali kota dari berbagai dunia untuk mengantisipasi agar krisis ekonomi tidak menjalar ke krisis sosial dan politik.
Sidang pleno yang diikuti perwakilan 115 kota dari 15 negara itu membahas krisis dan hak untuk kota, membangun jembatan antara warga asli dan komunitas baru, peluang mengatasi krisis, serta tantangan kebijakan dan praktek. Pembicara dan peserta berdiskusi mengatasi persoalan rasisme dan diskriminasi di kotanya masing-masing.
Sesuai kesepakatan peserta negara dari Asia-Pasifik di Bangkok, Thailand, pada 2006 lalu, ada 10 tujuan yang ingin dicapai forum wali kota dalam acara tersebut, di antaranya mempromosikan masyarakat inklusif, memperkuat dukungan bagi para korban rasisme dan diskriminasi, melawan rasisme dan diskriminasi melalui pendidikan, serta mempromosikan keanekaragaman budaya.
Sedangkan Gubernur Jawa Barat yang digantikan Wakil Gubernur Dede Yusuf mengatakan, diskriminasi yang harus dikikis saat ini antara lain soal pengecualian dan pembatasan hak di bidang pendidikan dan pekerjaan. Di lingkungan birokrasi, katanya, diskriminasi yang terjadi misalnya dalam hal pemberian pekerjaan, kompensasi, hingga pemecatan.
Di bagian akhir pidatonya, Dede Yusuf mengajak para hadirin untuk menyempatkan diri berwisata ke sejumlah tempat di Jawa Barat. Dia juga mempromosikan kecantikan perempuan Bandung. "Karena itulah Bandung disebut Kota Kembang," ujarnya.
ANWAR SISWADI





