Pengusaha Baja Desak Renegosiasi FTA ASEAN-Cina

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengusaha baja mendesak pemerintah menegosiasi ulang Free Trade Agreement (FTA) antara ASEAN (Assosiation of South East Asia Nation) dengan Cina. "Renegosiasi diharapkan dilakukan sebelum FTA diterapkan pada Januari 2010," kata Irvan Kamal Hakim, Wakil Ketua Indonesia Iron and Steel Industri Association (IISA) dalam Lokakarya Analisa Iklim Usaha Industri Baja dalam Menghadapi Krisis Finansial Global, di Hotel Kartika Chandra, Kamis (29/10).

Menurut dia, bila bea masuk 0 persen diterapkan, dia tidak menjamin apakah industri baja dalam negeri mampu bertahan. Sebab, kata dia, pemerintah Cina menerapkan subsidi secara aktif pada produk baja. "Subsidi sebesar 9 sampai 13 persen," kata Irvan.

Irvan mencontohkan, produk alat pertukangan yang menggunakan bahan baja. "Tiga alat pertukangan dari Cina bisa dijual dengan harga hanya Rp 10 ribu," kata dia.

Saat ini, lanjut Irvan, produksi baja Cina per tahun mencapai 6 juta ton. Padahal, produksi baja dunia sebesar 1,3 miliar ton. "Jadi, produksi baja Cina adalah hampir separuh produksi baja dunia," kata dia. Adapun produksi baja dalam negeri hanya 10 juta ton per tahun.

EKA UTAMI APRILIA