www.nursingbegin.com
Topik
Membidik Nyamuk Berbintik
TEMPO Interaktif, Ancaman nyamuk Aedes aegypti membuat Andi was-was. Sebab, sejumlah tetangganya diopname gara-gara terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD). Padahal hampir saban dua bulan daerah tempat tinggalnya di Cimanggis, Depok, dilakukan pengasapan atau fogging.
Namun, angka pasien DBD masih tetap banyak. Akhirnya pria 23 tahun ini juga positif terkena virus mematikan itu. Hemoglobinnya didapati di bawah 10, dan karyawan provider seluler nasional ini dirawat selama sepekan di Rumah Sakit Polri Sukanto, Jakarta.
Tidak ada yang bisa dikambinghitamkan oleh Andi. Penyakit DBD memang belum ada obatnya. Sementara itu, pencegahan berupa pengasapan yang berulang tetap tidak optimal memberantas nyamuk Aedes aegypti.
Menurut penggiat unit kajian pengendalian hama permukiman dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Dr drh Upik Kesumawati Hadi, MS, zat insektisida malathion yang terkandung dalam pengasapan tidak mampu membunuh larva nyamuk, termasuk Aedes Aegypti. "Membunuh nyamuk dewasa, namun cuma efektif sekitar dua hari," tutur Upik beberapa waktu lalu seusai presentasi studi mengenai nyamuk di Hotel Nikko, Jakarta.
Upik mengatakan seringnya pengasapan membuat proses resintensi pada nyamuk bakal terjadi. Apalagi di antara populasi nyamuk itu sebenarnya sudah ada yang membawa gen resisten, meski sangat sedikit. Nah, ketika disemprot, yang peka-peka akan mati semua. Tinggallah yang resisten itu. Jadi, kata Upik, populasi nyamuk pembawa resisten malah semakin banyak di daerah tersebut. "Kalau disemprot berkali-kali, artinya nyamuk yang resisten meningkat dan pengasapan sudah tidak mempan lagi," Upik menjelaskan.
Direktur Pengendalian Penyakit dan Vektor Kesehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Dr Rita Kusriastuti, MSc, menilai nyamuk Aedes pintar. Menurut dia, jangankan air bersih, seperti sangkaan orang selama ini, kloset dan jamban ternyata bisa ditempati mereka. "Mereka merasa nyaman berkembang biak di produk buatan manusia, seperti plastik dan drum bekas, kemudian barang-barang dari tanah liat," Rita menjelaskan di sela-sela seminar internasional demam berdarah dan tuberkulosis di Makassar beberapa waktu lalu.
Dari beberapa kasus, DBD menyerang tidak pandang bulu. Banyak pasien juga berasal dari kalangan menengah atas pemilik rumah mewah. Mereka, dijelaskan oleh Rita, kerap merawat tanaman mahal yang dijejer di halaman rumahnya. Nah, pot-pot kembang itu yang potensial dijadikan sarang oleh nyamuk Aedes aegypti.
Uniknya, nyamuk Aedes aegypti ogah menyambangi daerah pantai. Menurut dokter flamboyan ini, jentik tidak suka air payau atau air asin. "Mereka lebih suka air bersih," kata Rita. Karena itu, angka kasus DBD di Jakarta Utara lebih rendah ketimbang Jakarta Timur. Sama halnya dengan daerah Pantai Losari dan Kabupaten Gowa--yang sedikit ke tengah-- di Makassar. Adapun, dituturkan Rita, air PAM sebenarnya bagus karena sudah ada kaporitnya. Kaporit ini tidak disukai nyamuk Aedes aegypti.
Sejumlah upaya sudah dilakukan pemerintah dan pihak terkait demi memberantas nyamuk Aedes aegypti, dari sosialisasi 3M, pengasapan, studi, hingga teknologi. Teknologi membunuh nyamuk terbaru diluncurkan perusahaan elektronik asal Korea Selatan, LG. Mereka memasukkan teknologi gelombang ultrasonik ke dalam unit AC. Menurut Upik, teknologi ini bisa menjadi alternatif selain pengasapan.
"Persentase gelombang ultrasonik membunuh nyamuk Aedes aegypti sebesar 74 persen," ujarnya.
Cara kerjanya, gelombang ultrasonik merusak sistem reseptor nyamuk. Nyamuk menerima gelombang ultrasonik sebesar 30-100 kilohertz yang dipancarkan mesin pendingin. Nyamuk akan terganggu dan menjadi tidak nyaman. Dalam waktu 24 jam, gelombang itu bekerja terus sehingga membuat nyamuk mati. Gelombang ini lebih efektif jika tidak terhalang benda di bagian permukaan atau di depan unit AC dan ukuran ruangan disesuaikan dengan kapasitas pendingin.
Di Indonesia, angka kejadian DBD hingga 12 Agustus 2009 ada lebih dari 700 kasus. Tujuh di antaranya berakhir dengan kematian. Angka ini meningkat jika dibanding tahun lalu, yang berjumlah 500 kasus dan tiga di antaranya berakhir fatal. Demikian disampaikan perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia, Dr Daeng M. Faqih, dalam diskusi pengendalian hama di Jakarta pekan lalu. Menurut para ahli, urbanisasi, kurangnya pembasmian nyamuk, penambahan suhu secara global, dan transportasi modern juga mempercepat penyebaran virus DBD.
Kelompok peneliti dari NEHCRI--kerja sama perusahaan vaksin Novartis, Eijkman Institute, dan Universitas Hasanuddin, Makassar--sedang meneliti epidemi, virologi, diagnostik, dan respons inang untuk mendapatkan senyawa antiviral DBD. "Kami sedang meneliti gen dari virus untuk menemukan metode efektif dalam mendiagnosis dan merawat penyakit akibat virus," Kepala Riset Novartis Institute for Tropical Disease Profesor Paul Herrling menjelaskan.
Proses Penularan Virus
1. Virus demam berdarah dengue (DBD) masuk ke tubuh nyamuk Aedes aegypti saat mengisap darah orang yang terinfeksi virus dengue.
2. Dalam sembilan hari, virus dengue berkembang biak dalam air liur nyamuk.
3. Seekor nyamuk yang dijangkiti membawa virus itu di dalam badannya sampai akhir kehidupannya.
4. Nyamuk Aedes aegypti menularkan virus dengue ke orang sehat melalui air liurnya ke dalam sistem aliran darah manusia.
5. Masa penggigitan aktif pada pagi, pukul 9.00-10.00, dan sore hari, pukul 15.00-17-00.
6. Selesai menggigit, perut nyamuk Aedes aegypti dipenuhi 2-4 miligram darah atau sekitar 1,5 kali berat badannya.
7. Aedes aegypti punya kebiasaan menggigit beberapa orang secara bergantian dalam jangka waktu singkat.
8. Nyamuk Aedes aegypti betina mengisap darah manusia untuk mendapatkan protein bagi keperluan pembiakan.
9. Setelah 4-6 hari atau yang disebut sebagai periode pengeraman, penderita akan mulai mengalami demam tinggi.
HERU TRIYONO / BERBAGAI SUMBER