Tempo/Arnold Simanjuntak
Topik
Tren Spa dan Kecantikan Tradisional
TEMPO Interaktif, Jakarta -Sejak jaman dahulu, perempuan Indonesia memanfaatkan kekayaan alam untuk merawat kecantikan diri. Tren ini kembali populer belakangan ini dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan. Fakta telah membuktikan bahan dasar perawatan kecantikan akan terserap melalui kulit masuk, ke aliran darah dalam tubuh. Sementara perawatan kecantikan berbahan dasar kimia, tidak semuanya aman bagi kesehatan. Fakta inilah yang memicu tumbuhnya tren perawatan kecantikan tradisional saat ini.
Ardiani Kirana, 29 tahun, karyawati bank swasta di bilangan Sudirman misalnya. Ardiani rutin melewatkan akhir pekan di spa. “Untuk menghilangkan penat sekaligus merawat diri,” katanya. Bila ada waktu luang, Ardiani tak segan melakukan beberapa perawatan spa berbahan alami di rumah.
Ardiani sendiri belum bisa melepaskan diri dari produk kecantikan berbahan dasar kimia untuk kosmetik harian, tetapi khusus perawatan kulit, dia lebih mempercayakan produk kecantikan berbahan alami. “Efeknya memang sedikit lebih lama,” katanya.
Pada pameran industri kecantikan Cosmobeaute beberapa waktu lalu di Jakarta, stan-stan industri kecantikan tradisional selalu ramai oleh pengunjung. Sebut saja Bali Tangi, Lumbung Mas Home Spa, dan Kedhaton. Di hari biasa, produk mereka tidak dijual bebas kepada masyarakat. “Biasanya kita hanya penyuplai produk perawatan kecantikan untuk spa,” kata Yuliana, pemilik Bali Tangi.
Yuliani bidan asal Bali memulai kiprahnya dalam industri kecantikan ketika sang suami terkena pemutusan hubungan kerja massal saat krisis ekonomi 1997. Yulinani mulai meramu berbagai macam tanaman di sekitarnya yang ia pelajari dari keluarganya menjadi produk spa berlabel Bali Tangi untuk menyalakan asap dapur.
Bintang keberuntungan berada di pihaknya, pengusaha asal singapura mengajaknya bekerja sama. Kini bisnis keluarga Yuliani meningkat pesat. Dia telah memasarkan produk spa hingga Singapura, Malaysia, Thailand hingga Amerika serikat. Beberapa hotel juga secara rutin membeli produknya untuk pelayanan spa. Meski emoh menyebutkan omzet, Felix Liao, rekannya di Singapura menyebut pertumbuhan pelanggan spa Bali Tangi meningkat hingga 10-15 persen tahun ini.
Tak jauh beda dengan Lumbung Mas Home Spa. Meski harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal, tak hanya hotel bintang lima di Bali banyak membeli produknya, tetapi juga salon dan spa di singapura, thailand dan hongkong . Sebuah butik spa kecil di Seminyak, Bali mereka buka untuk umum. Tersedia body scrub, massage oil, antioksidant spray, sabun, masker wajah sampai garam mandi.
Yang sedikit berbeda adalah Kedhaton. Industri rumah tangga ini menyediakan produk perawatan kecantikan tradisional Jawa. Masker Rorohoyi, Ratus vagina dan Lulur Mangir adalah keunggulannya. Menurut Wisnu Sanjaya, Kedhaton baru berdiri tiga tahun lalu. Dengan tujuh karywan, industri rumah tangga ini menyuplai 25 salon dan spa besar di Jakarta, Padang, Batam hingga Palembang. “Cengkeh, Kayu manis, Sereh dan Pacoli adalah bahan utama dalam produk kami,” katanya.
Istilah spa telah dikenal sejak masa Romawi kuno. Dahulu “spa” adalah nama sebuah kota yang terkenal dengan percikan airnya yang berkilauan dan menyegarkan. Perawatan spa saat ini populer di kalangan masyarakat urban dengan kesibukan tingkat tinggi. Di setiap negara, jenis spa yang ditawarkan berbeda. Termasuk Indonesia.
Filosofi kecantikan tradisional indonesia percaya bahwa kecantikan fisik seorang perempuan akan muncul dari dalam diri, terkait dengan ketenangan jiwa. Apa yang ada dalam hati akan muncul keluar menciptakan keseimbangan alami antara kecantikan dan kesegaran fisik.
Amandra Mustika M