Dua petani mengaduk pupuk yang baru saja didapatnya setelah dua minggu menunggu di kawasan Sungai Citarik, Bogor, (14/12). Beberapa pekan terakhir sejumlah daerah di Indonesia mengalami kelangkaan pupuk. TEMPO/Arie Basuki
Kabupaten Malang Kekurangan Pupuk Bersubsidi
TEMPO Interaktif, Jakarta - Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Malang mengusulkan tambahan pupuk bersubsidi sebesar 10 persen, menyusul kekurangan pasokan pupuk hingga berdampak kelangkaan pupuk di pasaran.
Penambahan itu dari total kebutuhan pupuk ZA sebanyak 45 ribu ton dan urea 64 ribu ton per tahun. "Antara kebutuhan dan realisasi tak seimbang, sehingga setiap musim tanam mengalami kekurangan," jelas Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Purwanto, Rabu (4/11).
Untuk mengurangi ketergantungan dengan pupuk kimia, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, menyarankan petani untuk beralih menggunakan dan pestisida pupuk organik. Serta menggunakan pola pemupukan yang berimbang, sebab selama ini petani kerap menggunakan pupuk secara berlebihan.
Menurutnya petani kurang efisien menggunakan pupuk, rata-rata setiap hektare digerojok 450 kilogram urea dari idealnya sekitar 200 kilogram. Petani menambah pupuk kimia, agar hasil produksi semakin meningkat. Padahal, jika pupuk digunakan berlebihan akan merusak bahan organik di dalam tanah.
Agar para petani beralih menggunakan pupuk organik, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyerahkan bantuan alat pengolah pupuk organik ke 33 Kecamatan. Bantuan peralatan tersebut berupa granuler dan mesin pencacah kompos. Alat tersebut bernilai sekitar Rp 30 juta.
Menurutnya, sekitar 30 persen petani menggunakan pupuk organik secara bertahap. Mereka tergabung dalam kelompok tani, total kelompok tani yang aktif memproduksi pupuk organik sebanyak 36 ribu kelompok tani.
Berbagai jenis kompos yang digunakan diantaranya, jerami, kotoran hewan serta sampah rumah tangga. Bahkan, telah bekerjasama dengan Dinas Cipta Karya untuk memanfaatkan sampah organik di sejumlah pasar tradisional. Sampah organik ini disalurkan langsung kepada kelompok tani yang membutuhkan. Program ini telah dilaksanakan di Kecamatan Dampit, Ampelgading dan Lawang.
Petani asal Jambangan Kecamatan Dampit, Muhammad Hasan mengaku tengah berupaya mengembalikan unsur hara dan organik tanah selam setahun terakhir. Selama ini, Hasan beserta kelompok tani di desanya mulai mengumpulkan jerami serta kotoran hewan. Bahan kompos ini disebar ke sawah yang akan digunakan menanam padi. "Hasilnya cukup bagus, biaya kompos lebih murah dibanding pupuk kimia," jelasnya.
Selama dua musim panen tahun ini, Kabupaten Malang surplus beras. Sejak Januari-Agustus 2009 total surplus beras di Kabupaten Malang mencapai 69.803 ton. Pada Agustus lalu produksi menyumbang 39.594 ton gabah kering atau setara 26.926 ton beras. Sedangkan, kebutuhan beras penduduk di Kabupaten Malang sebanyak 18.539 ton.
Perhitungan kebutuhan beras total penduduk 2.442.422 jiwa, asumsi kebutuhan beras sebanyak 91,059 kilogram per tahun. Dengan total areal pertanian padi seluas 60.009 hektare.
EKO WIDIANTO





