foto

Proses INHALASI/metode pengobatan bagi balita penderita flu berat dan batuk berdahak untuk mengencerkan atau meluluhkan cairan dahak yang menggangu pernafasan di Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur.TEMPO/Bagus Indahono



Ada Pneumonia di Dadaku  

penderita fluTEMPO Interaktif, Mula-mula Ujang--bukan nama tulen--batuk-pilek biasa selama sepekan. Sakit itu diikuti gejala napas cepat selama tiga hari beruntun. Dalam keadaan sesak berat, Ujang diboyong bapaknya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Ketika diperiksa dokter, balita laki-laki berumur 4 bulan ini memiliki hitung napas 50 kali lebih setiap menit. Normalnya, hitung napas untuk anak seusia dia adalah 20-30 kali per menit.

Keluarga Ujang berasal dari kalangan ekonomi bawah. Mereka tinggal di daerah padat hunian di daerah Bandung. Orangt uanya tidak menyadari Ujang menderita pneumonia. Berita mengenai pneumonia memang tidak seseksi flu babi, flu burung, demam berdarah, atau AIDS sehingga masih ada orang Indonesia tidak familiar dengan penyakit ini.

Menteri Kesehatan, Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, mengatakan cuma sepertiga kasus yang sampai ke tenaga kesehatan. "Karena masyarakat tidak mengenali gejala-gejalanya," Endang menjelaskan dalam peringatan Hari Pneumonia Dunia di Bandung, Senin lalu.

Padahal penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru ini merupakan pembunuh utama balita di dunia--melebihi AIDS, malaria, dan campak. Lebih dari 2 juta balita meregang nyawa setiap tahun. Di Indonesia, menurut Direktur Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), mortalitas pneumonia pada 2005 mencapai 23,6 persen.

Pneumonia memang berisiko tinggi pada anak balita, terutama di bawah usia 2 tahun. Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan gizi buruk memiliki sistem imun yang lemah. Apalagi ditambah paparan asap rokok sang ayah dan polusi udara.

Penyebab utama pneumonia masih beragam. Dari presentasi Profesor Dr Cissy B. Kartasasmita dr SpA (K), pneumonia disinyalir 20 persen datang dari virus influenza tipe B, 30 persen dari jamur dan virus, kemudian 50 persen dari bakteri Streptokokus pneumokokus. "Untuk negara berkembang seperti Indonesia, bakteri masih berperan besar karena pola iklimnya," ujar Kepala Subbagian Respirologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung, itu dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu, studi dr Sri Sudarwati SpA, Subdivisi Bagian Respirologi Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, ditemukan, dari 525 pasien pneumonia pada anak di bawah 5 tahun di rumah sakit itu, cuma tiga yang positif terjangkit bakteri Streptokokus pneumokokus. Menurut Sri, studi yang dilakukan sejak 2007 sampai September 2009 itu melihat pendekatan pneumonia melalui darah.

Sri mengakui pendekatan pneumonia itu idealnya bukan melalui darah, melainkan deteksi cairan di paru. Itu dilakukan dengan alat dan tindakan invasif--tindakan yang "melukai" tubuh pasien. Selain risikonya sangat besar, biayanya sangat mahal.

Yang jelas, menurut Sri, sebagian besar pasien pneumonia pada anak itu terjadi pada anak laki-laki karena diameter saluran napasnya lebih kecil daripada perempuan. "Kebanyakan dari keluarga miskin," ucap lulusan dokter umum Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Sayangnya, pencegahan pneumonia bakal sulit diawali dari anak keluarga miskin. Itu menilik harga vaksin yang masih sulit dijangkau. Untuk vaksin PCV 7 atau pneumococcal conjugate vaccine dengan efektivitas 80 persen yang kini beredar, harganya berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

Sebetulnya, ada vaksin lain, yakni PCV 9. Hasil studi menunjukkan pemberian imunisasi PCV 9 di Gambia, Afrika, didapati bisa menurunkan kasus pneumonia sebesar 37 persen. Studi itu disampaikan Cissy lewat makalahnya.

Namun, Departemen Kesehatan belum juga memasukkan vaksin pneumokokus sebagai tambahan lima imunisasi dasar. "Kami masih melihat efektivitas vaksin dan itu mesti dipertimbangkan oleh Ibu Sri Rejeki," kata Tjandra. Profesor Dr Sri Rejeki S. Hadinegoro adalah Ketua Tim Ahli Imunisasi Nasional.

Adapun Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Badriul Hegar SpA(K) menegaskan, tidak ada pendekatan tunggal pada masalah pneumonia. Menurut dia, diperlukan penanganan komprehensif yang mencakup aspek perlindungan, pencegahan, dan terapi. "Untuk pengobatan, bagi pneumonia awal bisa dengan antibiotik, kok, dan biayanya tidak mahal," kata Badriul dalam presentasinya.

Yang pasti, pneumonia harus cepat diatasi. Badriul mengatakan bagaimana jadinya 20 tahun mendatang jika anak-anak saat ini menderita pneumonia. Ya, bukannya garuda yang ada di dada anak-anak Indonesia, melainkan pneumonia.



Diagnosis Pneumonia

1. Gejala bervariasi, tergantung umur penderita dan penyebab infeksinya.
2. Pneumonia karena infeksi bakteri umumnya membuat anak sakit berat mendadak.
3. Misalnya napas cepat(*), sulit bernapas, batuk, demam, menggigil, sakit kepala, nafsu makan hilang, dan mengik.
4. Balita dengan pneumonia berat bisa mengalami kesulitan bernapas, dadanya bergerak naik-turun cepat, atau tertarik ke dalam saat menarik napas.
5. Gejala pada anak usia muda bisa berupa kejang, kesadaran menurun, suhu tubuh turun (hipotermia), tidak bereaksi (letargi), dan minum terganggu.
6. Diagnosis pneumonia dipastikan dengan foto dada (X-ray) dan uji laboratorium

Napas cepat terjadi, bila:
- Anak usia kurang dari 2 bulan memiliki hitung napas 60 kali atau lebih per menit.
- Anak usia 2 bulan sampai 11 bulan memiliki hitung napas 50 kali atau lebih per menit.
- Anak usia 12 bulan sampai 5 tahun memiliki hitung napas 40 kali atau lebih per menit.


HERU TRIYONO

Sumber:
Profesor Dr Cissy B. Kartasasmita dr SpA (K), MSC, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung.