Untuk Bumi Lebih Lestari

TEMPO Interaktif, Di ruang dapur dengan luas 15 meter persegi, seorang koki terlihat cekatan saat beraksi. Bau sedap meruap seiring dengan proses memasak menu florentin spinach, yang berlangsung dengan cepat, di atas sebuah pan (wajan bergagang satu). Hup, tak sampai 5 menit, dari meracik hingga matang, chef Yohannes, sang koki, menyelesaikannya.

"Pan (penggorengan) ini panasnya cepat. Langsung merata adonan bumbunya, sehingga nggak ada sisa," ujarnya. Apalagi tanpa minyak atau margarin membuat rasanya terjaga lebih sehat. Belasan undangan yang hadir, termasuk sejumlah wartawan, berkesempatan mencicipinya. Mayoritas mengakui kelezatan menu itu.

Demo memasak oleh Yohannes, Executive Chef di Decanter Wine House, Kuningan, Jakarta, pada Jumat pekan lalu itu merupakan bagian dari peluncuran Green Pan di Indonesia. Sang chef membuktikan bahwa alat masak antilengket asal Belgia ini andal, praktis, dan ramah lingkungan. Setidaknya, selain cepat matang, dibersihkan cukup dengan lap basah. Asap yang dihasilkan pun minim.

Di kota-kota besar di Tanah Air, Green Pan, yang saat ini dibanderol Rp 250-500 ribu, bukan pemain baru dalam dunia alat-alat masak modern bermateri wah, misalnya di pusat-pusat belanja kelas atas ada merek Oxone dan Tefal. Tefal adalah alat masak non-stick coating yang andal, tahan suhu tinggi, aman, dan bebas PFOA. Produk asal Prancis ini dijual mulai Rp 299 ribu (berdiameter 24 sentimeter).

Meski sama-sama berbahan keramik, Green Pan berbeda. Ini adalah alat masak antilengket berteknologi baru, dengan menggunakan lapisan antilengket bernama Thermolon. Thermolon adalah lapisan antilengket pertama yang menjawab masalah kesehatan pada saat ini karena tak mengandung PFOA dan PTFE. Suhu Thermolon bisa sampai 450 derajat Celsius.

PTFE berbahaya untuk kesehatan. Apabila wajan, yang mengandung PTFE dipanaskan, menjadi terlalu panas, lapisan antilengket PTFE dapat rusak dan mengeluarkan asap beracun. PTFE hanya bisa bertahan hingga 350-400 derajat Celsius. Keunggulan lain adalah pengeluaran gas CO2 Green Pan diklaim bisa berkurang hingga 60 persen.

Begitulah, mengurangi pemanasan global di bumi tak hanya dengan mengurangi polusi kendaraan dan sampah rumah tangga, tapi juga bisa dimulai dari dapur kita. Dari hal-hal yang sepintas kecil, tapi sebetulnya sungguh berarti.

Seiring dengan gencarnya pelestarian alam setelah Seminar Perubahan Iklim pada akhir 2007 di Bali, kesadaran lingkungan telah kian membesar. Gaya hidup "go greenv"  bukan cuma sekadar wacana atau tak harus menunggu program pemerintah.

Salah satunya pusat-pusat belanja, di antaranya PT Carrefour Indonesia, yang sejak akhir Desember lalu meluncurkan tas belanja go green. "Ini upaya kami mengurangi penggunaan plastik di Indonesia," kata Manajer Komunikasi Carrefour Retha Dotulong.

Plastik sering menjadi masalah karena bahan ini sulit terurai secara alami. Kalau sampah organik bisa mengurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme, tapi tidak demikian dengan plastik. Butuh waktu minimal 100 tahun untuk menguraikan plastik.

Mendaur ulang plastik bisa jadi solusi, tapi kendalanya banyak. Selain belum ada pabrik pendaur ulang plastik di Indonesia, biaya untuk daur ulang plastik akan sangat besar. Tak usah berpikir panjang, proses penyortiran plastik saja bisa berlangsung lama, karena hingga saat ini proses penyortiran hanya menggunakan pandangan dan simbol.

Ada dua jenis tas belanja go green. Pertama dari kain berwarna hijau seharga Rp 10 ribu. "Tas ini bisa digunakan kembali untuk belanja. Kami berusaha menerapkan prinsip reuse," kata Retha.
Kedua, tas plastik hijau yang lebih kuat ketimbang tas biasa. Tas hijau ini dilego Rp 2.000. "Memang bahannya dari plastik, tapi plastik ini lebih kuat, sehingga bisa dipakai berulang kali," ujarnya. Bila kedua tas ini jebol, pelanggan bisa menukarkannya kembali ke Carrefour untuk diganti dengan yang baru.

Tak mau kalah, akhir Oktober lalu Hero melansir tas go green baru. Tas ini terbuat dari karung goni bekas dan didesain khusus oleh perancang ternama Adjie Notonegoro. Tas ini berharga Rp 25 ribu bila pelanggan membeli produk minimal Rp 100 ribu di Hero. Menurut Vivien Goh, Sekretaris Perusahaan Hero, tas karung goni ini memanfaatkan prinsip pengolahan sampah 3R (reuse, recycle, reduce).

Ini bukan kali pertama Hero meluncurkan tas go green. Sebelumnya, pada awal 2009 ini Hero telah mengganti semua tas plastiknya dengan tas plastik bio-degradable. "Plastik bio-degradable bisa mengurai dalam waktu dua tahun," ujar Vivien.

Ia mengakui masyarakat Indonesia tak bisa melepaskan diri dari kebutuhan terhadap plastik. "Banyak pelanggan meminta banyak plastik, alasannya buat membuang sampah di rumah dan lain-lain. Kalau tak dikasih, berdampak buruk bagi pelayanan," tutur Vivien. Karena itu, Hero mengganti semua plastiknya dengan bio-degradable plastic. Tren ramah lingkungan memang tak terbendung.
 
Amandra Mustika M/Dwi Arjanto