Topik
Inco Kesulitan Penuhi Permintaan Gubernur Sulawesi Selatan
TEMPO Interaktif, Makassar - Manajemen PT International Nikel Indonesia (Inco) Tbk mengaku sulit memenuhi permintaan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo yang mendesak pembukaan hutan seluas 1.000 hektare per tahun. "Kami tidak bisa asal-asalan membuka lahan seluas-luasnya, meski pemerintah membolehkan," ungkap Tri Batara Rahman, juru bicara PT Inco Tbk.
Menurut dia, membuka lahan baru, terutama untuk kebutuhan tambang selalu
mempertimbangkan proyeksi atau target yang akan diproduksi. "Misalnya pada 2009 ini, PT Inco menargetkan volume produksi sebesar 140 juta pon. Maka luas lahan yang dibutuhkan hanya berkisar 100 hingga 200 hektare saja," tutur Tri Barata.
Perusahaan asal Kanada yang masuk ke Indinesia sejak 1968 ini beroperasi di Sulawesi Selatan. Mendapat konsesi pengarapan lahan seluas 218.528,99 hektar dalam kontrak karya pada 2005.
Akhir-akhir ini Gubernur Syahrul geram lantaran 118 ribu hektar lahan yang dikuasai PT Inco, baru sekitar 10 ribu yang tergarap. Permintaan 1.000 hektare untuk membuka lahan baru sulit dipenuhi. "Kalau dipaksakan akan berdampak pada tidak efisiennya pemanfaatan lahan dan juga akan berpengaruh terhadap operasional."
PT Inco telah melayangkan surat permohonan rekomendasi pinjam pakai lahan hutan lindung seluas 100 ribu hektare yang berada di Soroako, Kabupaten Luwu Timur ke Gubernur Sulawesi Selatan. Langkah ini menyusul adanya regulasi baru dari Menteri Kehutanan yang mewajibkan perusahaan tambang mengurus izin pinjam pakai lahan hutan lindung.
Permintaan itu dijadikan momentum Pemerintah Sulawesi Selatan untuk evaluasi pemanfaatan lahan yang dikuasai PT Inco. "Tim yang dibentuk akan mengevaluasi dulu atas lahan yang digarap PT Inco. Hasil evaluasi itu akan dipakai merekomendasi layak atau tidak diberikan," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi sulawesi Selatan H. Idris Syukur kepada Tempo, Minggu (8/11).
PT Inco mentargetkan volume produksi 140 juta pon (1 pon sama dengan 0,4 kilogram). Angka itu sama dengan realisasi tahun lalu. "Tidak ada kenaikan target produksi tahun ini karena permintaan nikel dunia sempat anjlok akibat krisis keuangan global," Tri Barata menambahkan.
INDRA O Y