Rupiah Cemerlang Saat Dolar Terpuruk

TEMPO Interaktif, Jakarta - Aksi beli dolar Amerika Serikat pada saat harganya berada di tingkat rendah membuat penguatan rupiah sedikit terhambat sehingga gagal bertahan di bawah level 9.400. Nilai tukar rupiah di pasar antar bank di Jakarta hari ini ditutup di posisi 9.415 per dolar AS, yang berarti kembali menguat 50 poin dari penutupan Jumat lalu berada di 9.465 per dolar AS.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,78 poin atau 1,03 persen menjadi 75,05 karena tingginya pengangguran di negeri Abang Sam sebesar 10,2 persen yang mampu memicu penguatan mata uang kawasan.

Ekonom dari Bank BNI, Rosady T.A Montol, menjelaskan rupiah sempat menguat hingga 9.390 per dolar AS memanfaatkan pelemahan dolar AS di pasar global. Namun di saat mata uang itu turun justru dijadikan momentum oleh para pelaku pasar untuk membeli dolar ketika harganya murah. “Alhasil rupiah gagal bertahan di bawah 9.400 per dolar AS,” ucapnya.

Pasar menilai rupiah di 9.400 per dolar AS saat ini merupakan titik keseimbangan baru. “Sehingga, level 9.300 memang menjadi batas atas bagi rupiah, dan sulit untuk ditembus,” paparnya. Menurut Rosady, terdepresiasinya dolar AS terhadap mata uang utama dunia kali ini dipicu oleh tingkat pengangguran AS yang mencapai 2 digit, sehingga menstimulasi penguatan mata uang kawasan termasuk rupiah.

Untuk perdagangan Selasa (10/11) rupiah diperkirakan kembali ditransaksikan di kisaran antara 9.375 AS hingga 9.475 per dolar AS. Jika pertumbuhan domestik bruto ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga tahun ini lebih besar dari perkiraan para analis sebesar 4,15 persen tidak tertutup kemungkinan rupiah akan menuju target berikutnya di 9.350 per dolar AS.

VIVA B. KUSNANDAR