Topik
Hino Kucurkan Fulus Ekstra untuk Genjot Produksi
TEMPO Interaktif, Bandung - Produsen truk dan bus terkemuka Hino Motor Manufacturing Indonesia berencana menamba investasinya di Indonesia untuk menambah kapasitas produksi pabrik perakitan di Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Purwakarta, Jawa Barat.
Deputy Associate Director Coprorate Affair, Hino Motor Manufacturing Indonesia, Kristijanto, mengatakan pada 2010 pihaknya menambah investasi US$ 17 juta atau sekitar Rp 165 miliar. Tambahan investasi itu untuk mendongkrak kapasitas produksi yang tadinya 16 ribu per tahun menjadi 35 ribu per tahun. “Total investasi kami sekarang US$ 64,8 juta,” katanya di Bandung, Senin (9/11).
Dengan ekspansi itu Hino Indonesia akan memulai ekspor truk kecil dengan menjadikan Hino Indonesia sebagai pangkalan produksinya. Ekspor itu rencananya akan ditujukan ke sejumlah negara Asia dan Afrika. “Belum diputuskan masih dalam proses negosiasi,” tutur Kristijanto.
Dia mengatakan, saat ini kompetitor terbesar Indonesia untuk industri otomotif adalah Thailand karena negara tersebut memiliki kapasitas produksi tinggi, dan banyaknya infrastruktur untuk pembuatan komponen kendaraan. Banyak produk-produk otomotif yang diproduksi di negara itu masuk ke Indonesia.
Saat ini Hino Indonesia masih mengkombinasikan komponen lokal dan impor untuk kendaraannya. Menurut Kristijanto, komponen lokal dari kendaraan yang diproduksi perusahaannya berkisar antara 35 persen sampai 40 persen.
Kepemilikan Hino Indonesia sendiri 90 persennya adalah Principal dari Hino Motor Ltd., sementara Indomobil sendiri hanya memiliki porsi 10 persennya. Hino Indonesia berdiri sejak 1982 dengan modal awal US$ 5 juta atau setara Rp 48 miliar. Hino Indonesia bergerak di bidang perakitan komponen kendaraan, mesin, hingga memproduksi kendaraan.
Hino sempat memindahkan pabrik perakitan kendaraanya dari Jakarta pada 2003 lalu ke Purwakarta, kawasan industri yang didirikan oleh Grup Salim. Saat itu kapasitas produksnya baru mencapai 16 ribu unit per tahun, dan sekarang dipatok menjadi 35 ribu unit per tahun.
AHMAD FIKRI