Topik


Pabrik Pupuk Bergairah Tingkatkan Produksi

TEMPO Interaktif, Jakarta - Revitalisasi pabrik pupuk akan meningkatkan produksi pupuk hingga 2,395 juta ton per tahun. Saat ini, produktivitas semua pabrik pupuk badan usaha milik negara mencapai 8,048 juta ton per tahun. Bila revitalisasi sesuai usulan, kapasitas produksi akan mencapai 10,443 juta ton.

Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja, Dadang Heru Qodri, menyebutkan, pabrik pupuk yang akan direvitalisasi sebanyak lima pabrik. "Tiga di antaranya pabrik pupuk PT Sriwidjaja," kata dia dalam rapat dengan Komisi Bidang Perdagangan dan Industri, Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (9/11). Dua pabrik lain, PT Pupuk Kaltim dan PT Pupuk Kujang. Sementara untuk PT Petrokimia Gresik akan dibangun satu pabrik.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, revitalisasi pabrik juga bertujuan untuk efisiensi. Salah satunya dari segi pemakaian gas sebagai bahan baku. "Penggunaan gas untuk pabrik setelah direvitalisasi hanya 26 MMbtu per ton urea dari pemakaian gas saat ini yang mencapai 30 MMbtu per ton urea," tutur Dadang.

Sebelumnya, Dodi Reza Alex Noerdin, anggota Komisi Bidang Perdagangan dan Industri Dewan Perwakilan Rakyat, mengatakan kontrak pengadaan gas untuk pabrik pupuk harus dipertegas dan hati-hati. Kontrak untuk pengadaan ini seharusnya dibuat dalam jangka panjang sedikitnya 20 tahun.

Saat ini, kata Dodi, ada eskalasi harga gas bumi 2,5 persen per tahun. "(Eskalasi) tentu akan menjadi masalah yang sama dalam waktu yang tidak terlalu lama," ucapnya. "Maka, harga harus dikunci."

Umumnya rata-rata lama kontrak pasokan gas pada pabrik pupuk sekitar lima tahun. Tiga Pabrik pupuk Sriwidjaja, misalnya, sejak 2008 menerima pasokan gas dari Pertamina. Harga gas yang ditetapkan US$ 3,38 per ton MMbtu dengan eskalasi 2,5 persen per tahun. Kontrak akan habis pada 2012.

Masalah pasokan gas untuk pabrik pupuk sudah menjadi masalah klasik. Ketersediaan gas sebagai bahan baku bisa berpengaruh langsung pada realisasi produksi pupuk. Realisasi produksi saat ini pada hampir semua produk pupuk berada di bawah kapasitas terpasang.

Dadang menambahkan, untuk produksi pupuk urea sejak 2003 hingga 2008 hanya berada di kisaran 6 juta ton. "Padahal, kapasitas terpasang mencapai 8 juta ton," tutur Dadang. "Pada 2009 karena pasokan gas terpenuhi, maka produksi urea bisa 7 juta ton." Selain produksi urea, produksi pupuk lainnya juga berada di bawah kapasitas terpasang. Dadang melaporkan, produksi super phos atau SP-36 berkisar antara 600 ribu hingga 800 ribu ton. Padahal kapasitas terpasang 1 juta ton.

Sementara produksi pupuk jenis Phonska sejak 2003 hingga 2007 tertinggi mencapai 800 ribu ton pada 2007. Sedangkan kapasitas terpasang 1 juta ton. Meski begitu, tren peningkatan produksi pupuk terus meningkat mendekati kapasitas terpasang. "Hanya pupuk ZA yang produksinya mendekati kapasitas terpasang," ujar Dadang. Dalam laporan yang disampaikan Dadang, sejak 2005 produksi pupuk ZA mencapai 650 ribu ton sesuai kapasitas terpasang.

EKA UTAMI APRILIA