Topik
Infografis
Jogja TV Tak Ikut Turunkan Tarif Iklan
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Berbeda dengan stasiun televisi lokal di Jawa Tengah, Jogja TV justru tidak menurunkan tarif iklan. “Rate iklan sudah kami tentukan sejak Januari 2009 dan sampai sekarang belum ada perubahan. Tidak ada penurunan tarif iklan,” kata Widiana, Humas Jogja TV, melalui telepon kepada Tempo, Senin (9/11).
Widiana menambahkan, hingga kini tidak ada penurunan pemasang iklan di Jogja TV. “Pendapatan kami dari iklan masih fine-fine (baik-baik) saja,” ucapnya. Pendapatan Jogja TV dari sektor iklan rata-rata mencapai Rp 300 juta per bulan. Tarif iklan yang berlaku tahun ini, menurut Widiana, bahkan lebih tinggi sekitar lima persen dibanding tarif pada 2008.
Menurut Widiana, stabilnya penerimaan iklan di Jogja TV karena didukung keberadaan kantor marketing di Jakarta. Iklan yang sifatnya branding nasional justru masuk dari kantor marketing di Jakarta. “Soal iklan untuk televisi lokal memang berkait dengan daya beli. Namun untuk Jogja TV, sampai saat ini tidak ada penurunan pemasang iklan. Mungkin karena didukung oleh kantor marketing kami di Jakarta,” ungkapnya.
Sebelumnya, para pengelola stasiun televisi lokal di Semarang menurunkan tarif iklan akibat semakin ketatnya persaingan dalam bisnis siaran tingkat lokal. Saat ini pesaing tidak hanya datang dari pengusaha lokal, namun para pengusaha nasional juga ikut berebut pasar di televisi lokal. "Persaingan semakin berat, jika tarif iklan tidak turun bisa-bisa kami tidak dapat iklan," kata Production Manager TVKU Semarang Lilik Eko Nuryanto di Semarang, Jawa Tengah, kepada Tempo.
Lilik menyatakan penurunan tarif memang bervariasi. Misalnya, tarif iklan antara Rp 300 ribu hingga Rp 250 ribu per spot (30 detik) bisa turun Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per spot. Tarif iklan di televisi lokal sebesar itu lebih murah dibandingkan tarif iklan di stasiun radio lokal di Semarang yang per spotnya masih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.
Dalam memberikan tarif iklan, kata Lilik, pihak TVKU akan terlebih dulu melihat kemampuan dari pengiklan. "Tergantung negosiasi, makanya patokan tarif tidak bersifat final," kata dia. Lilik menyatakan bisa saja tarif iklan di TVKU harganya berbeda meski dengan spot, durasi dan waktu penayangan yang sama. Yang penting pihak TVKU tidak merugi dan pengiklan juga diuntungkan.
Selama ini, kata Lilik, perolehan dana dari iklan memang belum seperti yang diharapkan. Dari total dana pengeluaran rata-rata Rp 180 juta per bulan, pendapatan iklan yang mampu memberi masukan sekitar 60 persennya. Adapun kekurangan dana operasional mulai dari gaji hingga produksi itu bersumber dari dana suntikan Yayasan Universitas Dian Nuswartoro, lembaga yang memayungi TVKU.
Lilik menyatakan pihak yang beriklan di TVKU kebanyakan instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan. Instansi pemerintah itu terutama Pemerintah Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah. Biasanya iklan dari instansi pemerintah bersifat blocking time karena berupa acara dialog, diskusi, hingga yang menampung aspirasi-aspirasi masyarakat.
Direktur Utama Cakra TV Semarang I Nyoman Winata mengakui persoalan iklan di stasiun televisi lokal memang sangat sulit. Unatuk itu harga iklan biasanya disesuaikan dengan keadaan di lapangan. "Tapi kami tidak sampai banting harga," kata dia. Saat ini, harga iklan per spot rata-rata sebesar Rp 150 ribu. Biasanya, Cakra TV akan memberlakukan tarif iklan sesuai standar kemampuan pengiklan. "Kami sediakan berbagai paket," ucap dia.
HERU CN | ROFIUDDIN