Sebuah Monolog untuk Rendra

TEMPO Interaktif, BANDUNG - Seorang anak perempuan berkacamata dengan rambut keriting sepundak beranjak dari tempat duduknya. Langkahnya mantap hingga ia naik dan berdiri di atas kursi yang dibalut ikatan kain spanduk di tengah panggung. Dalam hitungan detik di bawah sorot lampu, suara lantangnya memecah kesenyapan Gedung Kesenian Dewi Asri Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung.

”Setelah para cukong berkomplot dengan para tiran. Setelah hak asasi di negara miskin ditekan demi kejayaan negara maju. Bagaimanakah wajah kemanusiaan,” kata Sigrid Minerva Boni Avibus. Seorang lelaki tua berambut panjang dengan pakaian hitam-hitam, mengitarinya perlahan sambil mengibaskan tongkat berbendera merah putih ke segala arah.

Boni, panggilan bocah tersebut, membaca Sajak 1990 karya WS Rendra itu dengan mengesankan. Lafal dan penekanan kalimatnya jelas dan tegas walau lidahnya agak cadel. Tanpa teks, bocah berusia 7 tahun namun sudah duduk di kelas 3 SD Banjarsari, Bandung, itu tampil hingga tuntas dengan mengandalkan kekuatan ingatan. Cukup pantas jika tepukan panjang sekitar 100 orang penonton mengiringinya turun dari kursi hingga ke belakang panggung.

Itulah sajian menarik yang membuka pementasan monolog Burung Merak oleh Putu Wijaya, Minggu (9/11) malam. Sebuah karya baru Putu untuk menyebarluaskan pemikiran sahabatnya yang menutup riwayat pada 6 Agustus lalu.

Setelah Boni, sejumlah pemain Teater Mandiri yang dipimpin Putu memainkan adegan teatrikal. Sebuah boneka raksasa berkulit kain putih yang berisi balon-balon, diturunkan perlahan. Selanjutnya tiga lelaki berpakain hitam-hitam bergantian mendekapnya, membanting, mencekik, lantas menggantungnya kembali dengan tarikan tali. Setelah mereka memberi pengantar pertunjukan, giliran Iman Soleh tampil membacakan Sajak Sebatang Lisong. Tapi gaya khasnya, yaitu membaca sambil setengah menari dan mengetukkan kedua kaki seperti jalan di tempat sebagai ritme, baru muncul pada sajak Balada Terbunuhnya Atmo Karpo.

Monolog Burung Merak sendiri dibuka Putu Wijaya dengan suasana sedih. Muncul dari balik layar putih yang disiram cahaya merah, suasana duka langsung ditunjukkan oleh mimik, kemeja, kain sarung, dan peci hitam yang dipakainya. ”Pulang dari tahlilan 40 hari berpulangnya WS Rendra di Bengkel Teater, pintu rumah saya terkunci. Di teras yang menghadap ke kebun, saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sesosok yang membuat darah saya tersirap. Mas?” kata Putu mengawali kisah. Pandangan dan tubuhnya menghadap ke boneka raksasa yang tergantung hampir sejajar.

Boneka buatan perupa Tisna Sanjaya untuk pementasan Putu Wijaya saat memainkan monolog Zatan di tempat yang sama beberapa bulan lalu itu, menjadi lawan bicara yang diam. Di hadapannya, berbagai kenangan Putu bersama Rendra ketika mengobrol 40 tahun lalu di Yogyakarta, misalnya, mengalir kembali bersama tangis. Suatu malam ketika menunggu persiapan pentas Menunggu Godot di sebuah warung pinggir rel kereta sambil menyeruput teh, Putu belajar satu hal dari ucapan Rendra: melihat sesuatu dengan sudut pandang yang baru.

Si Burung Merak, katanya, adalah legenda yang pemikirannya memberontak kemapanan hidup. Sebagai guru yang mencerahkan pikiran dalam mencerna kenyataan sosial, ia mengajak murid-muridnya bergaul akrab dengan alam. Baginya, murid yang berhasil adalah orang yang mampu naik ke kepala gurunya. Tapi dibalik sosok yang berani melawan kekuasaan dan jadi panutan kaum pergerakan mahasiswa itu, Putu tak kuasa menahan ledakan haru ketika teringat ucapan pelukis Hardi.

Dari balik jeruji sel zaman Orde Baru, Rendra pernah berkirim surat agar Hardi, Buyung Nasution, dan Ajip Rosidi membantu kesejahteraan keluarganya. Rendra pun mengajukan diri menjual lukisan Hardi agar berbalas komisi. ”Punya istri tiga dengan sebelas anak, sungguh suatu tanggung jawab yang sangat berat, Mas,” ratap Putu. Monolog itu diakhiri dengan perpisahan dan permintaan maaf Putu sambil melepas boneka besar yang terangkat naik di tengah kepulan asap.

Tak ada celetukan juga selipan humor dalam pementasan selama hampir satu jam tersebut. Ciri khasnya itu baru muncul di babak kedua ketika ia dengan lepas berkisah tentang titisan raksasa di Indonesia. Sebuah cerita metafora tentang kekejaman negara-negara adi daya hingga memakan bangkai orang, seperti halnya Sumanto.

Tata panggung pertunjukan yang didanai sebuah perusahaan rokok itu tampak sederhana dan minim cahaya. Begitu pun musiknya yang lebih sering menampilkan suara desiran angin. Area pentas yang dibuat rata dengan lantai gedung, hanya ditandai dengan alas kain terpal. Timbunan kertas buku yang dibakar serta arang, terhampar memanjang di kedua sisi panggung. Beberapa sekop, diantaranya bercagak dua dan tiga, digeletakkan di atasnya. Selain sebuah kursi dan boneka besar yang jadi peralatan utama, Putu sesekali meraih tongkat berujung seperti sapu lidi dan rangkaian bunga kertas, juga melecut cemeti.

Menurut Putu Wijaya, gagasan pementasan itu muncul setelah kematian Rendra 6 Agustus lalu. Sebelumnya pada Februari lalu, Rendra sempat mengajaknya ikut pementasan Waiting for Godot yang ia ketahui belakangan. ”Kemudian dia meninggal, saya berjanji akan membuat pementasan pada 100 harinya, entah bagaimana,” katanya di sela pementasan. Tapi ia enggan memainkan karya-karya Rendra bersama Teater Mandiri kelompoknya. Soalnya lelaki kelahiran Tabanan, Bali, berusia 65 tahun itu percaya, anak-anak muda negeri ini hanya mengingat namanya saja, dongeng tentang Rendra, atau beberapa karyanya. ”Tapi pikiran-pikirannya (Rendra) nggak sampai,” ujarnya. Karena itulah, Putu akhirnya memutuskan untuk berkeliling ke sejumlah kota.

Monolog Burung Merak pertama kali dipentaskan Oktober lalu di sebuah SMA di Bogor. Dari Bandung, mereka akan menyambangi Pekalongan, Kudus, Semarang, Yogyakarta, Jombang, Mojokerto, Malang, Singaraja-Bali, serta Surabaya. Selama 20 hari, pementasan di 11 kota itu rencananya akan ditutup di Taman Ismail Marzuki pada 28 November mendatang.

Pemilihan kota itu dijaringnya lewat situs jejaring pertemanan Facebook. ”Kami tawarkan siapa yang mau terima kami menggelar pertunjukan,” katanya. Tingginya antusiasme pihak yang ingin menjadi tuan rumah, ikut menyemangati Putu untuk berteater. Separuh lokasi pementasan itu akan digelar di kampus-kampus perguruan tinggi. Ke sanalah Putu menebarkan pemikiran Si Burung Merak lewat kenangannya.

ANWAR SISWADI