Topik
Warga Sidoarjo Bubarkan Ajaran yang Diduga Sesat
TEMPO Interaktif, Sidoarjo - Sekitar 200-an warga Desa Singogaleh Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo membubarkan jamaah dzikir Yayasan Karisma Usada Mustika. Mereka menilai aktifitas ibadah jamaah dzikir diduga sebagai aliran sesat. Warga resah dengan kegiatan jamaah karena hanya berdizikir dan tak mewajibkan sholat seperti syariat agama Islam.
"Ajarannya menyesatkan, hentikan kegiatan jamaah," kata Ahmad Fathoni, tokoh masyarakat setempat, Rabu (12/11).
Menurutnya, setiap hari sekitar 100 jamaah dari berbagai daerah berkumpul di rumah pimpinan jamaah, Muhamad Suparman. Saat memasuki waktu salat mereka tak beranjak untuk menunaikan ibadah. Sedangkan, pada tengah malam sekitar 100 jamaah itu mengikuti ritual berupa dzikir dan membaca doa tertentu secara berjamaah.
Kegiatan jamaah ini berlangsung selama setahun terakhir. Awalnya, mereka berkedok sebagai pusat pengibatan alternatif dan kegiatan sosial. Yayasan ini, kata Ahmad, merupakan cabang dari aliran serupa di Jakarta. Ahmad menegaskan, sejak awal telah mengingatkan Suparman agar menghentikan ritual tersebut. Namun, selama ini Suparman cenderung mengabaikan peringatan warga dan tetap menjankan ritual seperti yang diajarkannya.
Peringatan warga ini telah dilayangkan sejak tujuh bulan lalu. Bahkan, selama ini telah dilakukan pertemuan antara pimpinan yayasan dengan tokoh agama setempat. Pertemuan tersebut berlangsung ricuh dan nyaris bentrok. Puncaknya, Rabu dini hari masyarakat menutup sementara kegiatan jamaah tersebut.
Sementara itu, Suparman membantah jika ajarannya sesat. Ia menyebutkan, jika selama ini tetap menjalankan ibadah salat setiap waktu. Sangkaan warga, kata Suparman, tak beralasan dan tak memiliki dasar. Lantaran, selama ini warga tak pernah menyaksikan aktifitas ibadah yang dilakukannya. "Salat adalah hubungan manusia dengan sang khalik, apa harus ditunjuk-tunjukkan kepada orang lain," tanyanya.
EKO WIDIANTO





