foto

TEMPO/Arie Basuki



Membelenggu Hewan Pengganggu

TEMPO Interaktif, Teriakan Arini, 25 tahun, membuat suasana di sebuah bioskop ternama di kawasan Depok menjadi horor. Entah dari mana, mendadak ada tikus melintas. Bukan sekali saja binatang pengerat itu menampakkan diri. Penonton lain jadi ikut bingar atas kelakuan tikus ini.

Masalah hama memang tidak mudah diberantas. Manajer Umum Cineplex 21 Group David Sadeli mengaku hal ini sulit dihindari. David melihat di mal memang banyak sekali celah yang berpotensi jadi tempat hama berbiak. "Ada banyak restoran dan celah berlubang," ujarnya seusai menghadiri diskusi pengendalian hama beberapa waktu lalu di Plaza Senayan, Jakarta.

Imbasnya, hama-hama itu juga menyerang bioskop. Paling mengganggu, kata David, adalah tikus, kemudian kecoa dan nyamuk. Untuk itu, sejak 1997, dia mengontrak perusahaan pengendali hama. Kemudian dipasanglah jebakan berupa lem dan penyemprotan berkala saban bulan. Walhasil, terjadi pengurangan signifikan gangguan hama meski masih ada yang lolos.

Peneliti Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Dr drh Upik Kesumawati Hadi, MS, mengatakan hama sebaiknya tidak dibasmi. Bagaimanapun, hama merupakan satu dari mata rantai makanan di alam. "Pembasmian akan menjadi gangguan yang meningkatkan populasi makhluk lain. Ini bisa berefek negatif," Upik menjelaskan seusai menjadi pembicara dalam acara yang sama.

Dilemanya, Upik menambahkan, apabila dibiarkan, hama itu merugikan manusia secara material maupun kesehatan. Manusia cuma bisa mengendalikan sampai batas populasi yang tidak mengganggu.

Upik mendefinisikan hama sebagai makhluk yang dalam keperluan hidupnya berada di lingkungan pemukiman dan membahayakan kehidupan manusia. Permukiman merupakan ekosistem yang stabil bagi hama. Sebab, di sana mereka mendapatkan air, makanan, serta tempat berlindung dan berkembang biak.

Sebut saja kecoa, satu jenis hama yang paling kuat. Kecoa dapat menularkan berbagai penyakit saluran pencernaan seperti kolera, tifus, dan disentri. "Penularannya dengan kontak langsung," kata pakar entomologi, ilmu yang mempelajari serangga itu. Indikasi kecoa banyak bersarang di rumah adalah saat mereka beraksi di siang hari. Karena jam kerja kecoa umumnya pada malam hari.

Adapun hewan pengerat tikus adalah pembawa penyakit pes atau dikenal juga pesteurellosis, penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri. Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia dalam diskusi itu, Dr Daeng M. Faqih, mengungkapkan, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan mengurangi terjadinya kontak antara tikus dan manusia. "Karena ada vektor pes, yaitu pinjal atau kutu yang menempel pada tikus," ujarnya. 

Namun, membelenggu hama, Upik menekankan, tidak harus dengan pestisida. Pestisida malah dapat mengakibatkan keracunan akut terhadap penghuni, hewan peliharaan, dan pelaksananya sendiri, juga bisa menimbulkan resistensi pada hama dan indikasi kanker pada manusia.

Ia menyarankan pencegahannya dengan menghilangkan tempat berkembang biak dan tempat beristirahatnya. Lalu, dengan menggunakan musuh-musuh alami hama (pengendalian biotik), misalnya dengan ikan atau tanaman lavender. Bisa juga dengan pemasangan kelambu tempat tidur dan kawat kasa pada lubang-lubang ventilasi.

Pada prinsipnya, tidak sulit mengusir hama dari rumah. Yang penting rumah bersih, cukup cahaya dan ventilasi, penampungan limbah yang memadai, serta tidak menyediakan tempat yang cocok bagi persembunyian hama. 


Kenali Musuh Bersama 

1. Lalat
-Perilaku: Berkelompok dan bergerombol. Menjauhi sinar matahari langsung. Jarak terbang mencapai lebih 1-5 kilo meter.
-Potensi vektor: Bulu-bulu halus, kaki dan bagian mulut lalat rumah dapat memindahkan patogen. Lalat memuntahkan sebagian makanannya (regurgitasi). Lalat melakukan defekasi (buang kotoran) saat hinggap dan makan.
-Penular penyakit: Disentri, kolera, polio, hepatitis dan cacingan.

2. Kecoa
-Perilaku : aktif malam hari, namun sembunyi di siang hari.
-Kontaminasi: Sebagai pengganggu. Pemicu alergi bagi beberapa orang. Menggigit, meskipun jarang.
-Penular patogen penyakit: Protozoa, bakteri, virus dan cacing.

3. Rayap
-Daur hidup: Ada di bumi lebih dari 100 juta tahun--kecoa 250 juta tahun. Di dunia ditemukan 2500 jenis rayap, 200 diantaranya di Indonesia.
-Tanda infestasi rayap: Gundukan tanah. Terowongan tanah (tunnel). Feses pelet. Mebel atau furnitur rusak.

4. Tikus
-Perilaku tikus: selalu mengerat. Aktif bergerak cepat. Punya area teritorial. Penciuman tajam. Sensitif terhadap suara. Cerdik, penuh tipu daya dan jenaka.
-Tanda keberadaan tikus: Kotoran, cairan dan bau, jejak kaki, bekas lemak tubuh, lubang, jalur dan sarang, bangkai, bau dan suara.
-Penular penyakit: sampar, leptospirosis, tifus, cacing. Merusak bahan makanan dan peralatan.


HERU TRIYONO | SUMBER: Dr Upik Kusumawati Hadi, M.S, Pakar Entomologi Kesehatan Institut Pertanian Bogor