foto

TEMPO/Yosep Arkian



Menyelami Filosofi Bedah Plastik

TEMPO Interaktif, Setiap perempuan selalu mendambakan kecantikan. Seperti istilah beauty is in the eye of the beholder, yang berarti kecantikan adalah sesuatu yang bersifat subyektif dengan standar yang berbeda dari setiap ras maupun budaya. 

"Kecantikan seseorang mempengaruhi kecantikan luar maupun inner beauty. Nah, kecantikan luar yang ditunjang kecantikan dari dalam memberikan kualitas hidup yang baik," kata Enrina Diah, yang sehari-hari sebagai dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi. Ditemui beberapa waktu lalu di kantornya di Plaza ABDA, bilangan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, dokter bertubuh semampai ini adalah sosok yang sibuk. 

"Setiap hari ada saja saya harus melakukan operasi bedah plastik untuk berbagai kasus kecantikan," ujarnya sambil tersenyum. Enrina tercatat sebagai ahli bedah craniofacial pertama di Indonesia dan bersertifikat internasional. Dia menyebutkan, bagian tubuh yang sering diminta dioperasi antara lain bentuk wajah, hidung, mata, bibir, termasuk payudara, paha, pantat, perut, dan alat vital. 

Belakangan ini kegandrungan orang untuk bedah plastik kian terbuka. Sejak awal 2000, pilihan masyarakat kian marak. "Semua seperti jor-joran. Ada banyak alasan, seperti kesehatan, estetika, ada juga sekadar ikutan-ikutan karena sedang tren seolah gaya hidup masyarakat kota. Yang sering dilupakan di balik operasi ini ada filosofinya," kata ibu satu anak ini.

Animo masyarakat untuk mengubah bentuk tubuh memang tinggi. Berdasarkan catatan klinik yang dibuka sejak Agustus lalu, dalam sehari ia mengoperasi pasien dua hingga lima orang. Waktu pengerjaan terlama 17 jam untuk tampil sempurna operasi plastik seluruh tubuh. Meski baru, jumlah pasien pengencangan kulit wajah mencapai di atas 50 orang. Di luar itu, belasan orang menjalani operasi lainnya.

Sebelum operasi, Enrina bersama tim dokter mewawancarai setiap pasien. Enrina emoh mengiyakan apa yang diinginkan pasien lantaran wawancara itu sebagai panduan ketat menggali apa latar belakang, motivasi, keluhan, kasus yang dihadapi, pilihan, serta risiko bedah plastik. "Dalam perbincangan panjang itu, saya selalu jelaskan plus-minus bedah plastik. Saya tekankan sense of philosophy-nya. Bukan cuma mengiyakan keinginan pasien."

Filosofi bedah plastiknya sebagai bahan pertimbangan supaya pasien berpikir matang. Dia memaparkan risiko, efek samping, serta akibat pascabedah plastik pada faktor kejiwaan, seperti perasaan berdamai dan menerima inner beauty

"Jangan sampai, setelah merasa cantik atau melihat hasilnya, justru membuat si pasien panik, menyesal, bahkan tidak nyaman," ujarnya sambil merujuk efek psikologis setiap orang belum tentu sama atas kondisi baru dirinya. Pasien Enrina terdiri atas ekspatriat, sebagian warga Ibu Kota, pesohor, dan orang-orang kaya dari daerah, seperti Kalimantan, Papua, dan Sulawesi.

Penulis buku Ultimate Beauty: Menjadi Pribadi Menakjubkan dengan Aesthetic Surgery ini tidak memungkiri ada alasan pasiennya demi menjaga pasangan agar tidak kabur atau selingkuh. "Semua kembali pada kemantapan hati pasien. Bukan jaminan jitu pasien pascaoperasi melanggengkan atau melapangkan hubungan," katanya.

Sejak kecil, Enrina suka dengan estetika. Menjadi seperti sekarang merupakan panggilan dan perjalanan hidup yang dilakoni. "Saya suka kecantikan, tapi kecantikan, terutama bagi saya, di sini dan sini," katanya sambil menunjuk bagian kepala dan dada. Maksudnya inner beauty. Karena itu, meski sering menangani pasien, ia tidak tergoda dan belum pernah melakukan operasi plastik. 

Bagi Enrina kecantikan adalah filosofi tidak semata soal penampilan luar, tapi juga kepribadian, kesehatan serta intelektualitas. "Tugas atau peranan orang seperti saya hanya membantu memperbaiki outer beauty. Namun sekali lagi kecantikan dari dalam pendarnya paling kuat yang tidak akan kalah dari kecantikan dari luar."

Penyuka jalan-jalan dan menu serba sayur buah ini menambahkan kecantikan dalam dan luar sama penting. Namun ia tidak memungkiri bahwa citra kecantikan sekarang kian terbentuk dari industri gaya hidup yang tumpah ruah di televisi, iklan, film dan media cetak.

HADRIANI P