Indonesia Akan Dijadikan Ibu Negara Daulah Islamiyah Nusantara
TEMPO Interaktif, BANDUNG- Serangan teroris Jamaah Islamiyah akan terus dilancarkan hingga negara Islam berdiri di Indonesia. Organisasi garis keras itu bahkan berencana menjadikan Indonesia sebagai ibu negara Daulah Islamiyah Nusantara di wilayah Asia Tenggara. "Mantiqi 2 ditetapkan sebagai wilayah konflik, selalunya dirujuk kepada Poso, Ternate, dan Ambon," kata Dosen Universitas Kebangsaan Malaysia Mohd. Hanif Hanuddin, di sela simposium kebudayaan Indonesia-Malaysia di Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (12/11).
Ketiga daerah di Indonesia itu dikenal sebagai jihad zone. Menurut Hanif, sejumlah negara Asia Tenggara telah ditetapkan sebagai daerah penyokong serangan teroris. Mantiqi 1 yang meliputi Malaysia, Singapura dan Thailand selatan dianggap sebagai wilayah ekonomi.
Sedangkan Mantiqi 3 dirujuk sebagai tempat pelatihan serangan. "Meliputi Pulau Mindanao dan sekitarnya dengan kamp yang terkenal yaitu Abu Bakar, Hudaibiyah, dan MILF," ujarnya. Mantiqi (wilayah) selanjutnya akan dibangun di Papua dan Australia.
Sedangkan menurut dosen Universitas Kebangsaan Malaysia lainnya, Mostafa Kamal Mokhtar, dua tema dalam gerakan kaum militan seperti Kumpulan Mujahidin Malaysia, Jamaah Islamiah, dan Darul Islam di Indonesia, adalah jihad dan negara Islam. "Jihad dianggap untuk menguatkan kumpulan ini untuk terus berjuang di atas nama agama, dan negara Islam merupakan matlamat akhir," ujarnya.
Persoalannya, kata profesor madya itu, konsep jihad yang dianut tersebut apakah memenuhi kehendak Islam dan syariatnya, atau tersasar dari pengertian jihad sebenarnya. Menurut staf Pusat Pengkajian Psikologi dan Pembangunan Manusia UKM itu, gerakan mendirikan negara bayangan tersebut tak sesuai dengan konsep jihad suci yang dikehendaki agama.
Gerakan yang terjaring dengan organisasi Al Qaedah itu, katanya, menghalalkan segala cara untuk memusuhi kaum non muslim, terutama negara-negara barat dan Yahudi karena dianggap menghancurkan ajaran Islam dan budayanya. "Pengeboman hanya salah satu caranya," ujarnya.
Konsep jihad yang berusaha memastikan agama Islam tetap utuh dan berfungsi di masyarakat, diterapkan berbeda-beda oleh sejumlah organisasi sejak lama. Secara halus, jihad itu dikembangkan antara lain oleh Angkatan Belia Islam Malaysia, Jemah Islam se-Malaysia, dan Majelis Ulama Indonesia.
Setelah kematian Noordin M. Top beberapa waktu lalu, Mostafa yakin serangan teroris akan terus berlanjut, karena sudah banyak orang yang disiapkan untuk menjadi penggantinya. Untuk memutus rencana serangan selanjutnya, ia menyarankan pemerintah Indonesia memecah jaringan teroris agar tersekat-sekat. Caranya dengan mengawasi ketat warga negaranya seperti yang dilakukan pemerintah Malaysia.
Kondisi geografis Indonesia yang begitu luas, diakuinya menyulitkan pengawasan itu namun memudahkan teroris berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kalau ingin mencontoh Malaysia, katanya, pengetatan itu dimulai dengan pendataan penduduk yang baik. Antisipasi perpindahan teroris juga disarankan lewat pengetatan perizinan visa ke negara Islam.
ANWAR SISWADI





