Topik
Infografis
Buku Setara Institute Dilarang
TEMPO Interaktif, Gorontalo -Sejumlah tokoh agama Gorontalo meminta agar buku terbitan Setara Institute For Democracy and Peace berjudul "Berpihak dan Bertindak Intoleran" tidak diedarkan. Buku yang berisi laporan tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia itu diulas oleh Setara Institute For Democracy and di Grand City Hotel, di Gorontalo kemarin.
Buku itu menyebutkan bahwa Setara Institute merekomendasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar mencabut Surat Keputusan Bersama tentang pembatasan Ahmadiyah. Selain itu, dalam buku itu menyebutkan bahwa Majelis Ulama Indonesia melakukan tindakan kriminalisasi dan intoleransi terhadap Ahmadiyah yang mencapai 42 kasus.
"Kami minta buku ini agar tidak diperbanyak lagi dan harus dicabut dari peredarannya secara nasional karena hanya akan meresahkan masyarakat," kata Abdul Kadin, tokoh agama dari Muhamadiyah.
Beny Soesetyo, sekretaris Dewan Nasional Setara Institute for Democracy and Peace mengatakan buku tersebut hanya merupakan studi kasus tindakan kriminalisasi dan intoleransi umat beragama pada tahun 2008. Buku itu hanya dicetak dalam edisi terbatas dan disebarkan kepada kalangan tertentu. "Kami akan menampung hasil dialog ini meskipun ada yang menolak, dan kami juga masih akan melakukan revisi terhadap isi buku ini," katanya.
Buku “Berpihak dan Bertindak Intoleran” merupakan laporan kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia tahun 2008. Buku tersebut setebal 146 halaman . Dalam buku itu disebutkan pengumpul datanya adalah Abdul Hamin Jauzie dan Hilaludin Safary, dengan editornya Ismail Hasani dan dicetak oleh Publikasi Setara Institute Januari 2009.
CHRISTOPEL PAINO
Web via