Tarif Listrik Tinggi, Daya Saing Industri Melempem
TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengatakan tarif listrik di Indonesia saat ini paling tinggi di antara negara-negara anggota ASEAN. Hal inilah yang menyebabkan biaya produksi menjadi mahal.
Biaya produksi yang selangit membuat daya saing industri melemah. Meski demikian, krisis listrik saat ini memang tidak bisa dihindari. "Pasti ada resistensi dari kalangan industri," kata Hidayat usai membuka Pameran Hasil Litbang Industri di Departemen Perindustrian, Jakarta, Selasa (17/11).
Untuk ke depan diperlukan upaya membuat harga listrik menjadi kompetitif. Program kabinet lima tahun ke depan harus bisa membuat harga listrik lebih efisen. Menurut Hidayat, solusinya ada di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia mendukung harga yang efisien dengan mengusulkan kategorisasi terhadap kelompok dan golongan agar tidak disamaratakan.
Soal daya saing ini pula yang membuat Menteri Hidayat menginginkan agar industri dalam negeri benar-benar bisa siap dalam Free Trade Agreement (kerjasama perdagangan bebas) ASEAN. "FTA itu memang tidak bisa dihindari," katanya. Itu merupakan kehendak kesepuluh negara ASEAN.
Pada saat FTA ditandatangani diharapkan daya siang Indonesia relatif lebih siap. Terutama dengan Cina, banyak pengusaha yang masih ragu bersaing. "Terutama soal tekstil. Sekarang saja kita sudah kalah bersaing," katanya. Hidayat mengaku tidak bisa memaksa masyarakat untuk membeli produk dalam negeri kalau harganya lebih mahal.
IQBAL MUHTAROM