Gunungan Sampah Sambut Pengunjung Pantai Marunda


TEMPO Interaktif, Jakarta - Bau bangkai dan anyir langsung menyesaki dada. Sampah bertumpuk dan berserakan di pantai publik, di kawasan Pantai Marunda, Jakarta Utara. Gunungan sampah di pinggiran pantai sepanjang bahkan hanya sekitar lima ratusan meter dari Rumah Pitung sudah teronggok hampir satu bulan lamanya.

Berdasar pengamatan Tempo, sampah di lokasi yang mulai ditumbuhi tanaman bakau ini kebanyakan berupa sampah pelastik dari limbah rumah tangga. Bahkan di beberapa titik terdapat bangkai tikus dan kucing ikut menjadi satu dengan onggokan sampah itu.

Pemandangan dan bau tidak sedap ini menghiasi gerbang lokasi wisata pesisir yang kerap dikunjungi warga sekitar pada setiap akhir pekan. Padahal, pintu masuk pantai yang terletak di belakang kompleks rumah susun milik Marunda itu berjarak sekitar dua ratus meter dari bibir pantai.

"Sampah-sampah ini terbawa air pasang," kata Sudirman, 63 tahun, nelayan di kawasan pantai Marunda, saat ditemui Tempo, Selasa (24/11). "Umumnya sampah ini berasal dari Kali Baru dan Cilincing."

Menurut Sudirman, warga di sekitar pantai publik Marunda khawatir kondisi itu bisa berakibat pada penurunan pengunjung. Sehingga bisa berakibat terhadap berkurangnya pendapatan warga sekitar yang biasa berjualan makanan dan minuman.

Witiarsi, 46 tahun, pemilik warung makan kerang hijau di sekitar pantai juga merasakan kekahawatiran serupa. "Kalau terus bau sampah, bisa-bisa orang-orang yang datang ke sini tidak selera makan lagi," ujar ibu tiga anak ini.

Biasanya, ia melanjutkan, sampah-sampah tersebut dibersihkan dan diangkut kapal pengeruk sampah. Tapi, sudah lebih dari tiga minggu, kapal yang dioperasikan oleh Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara itu tidak pernah datang lagi.

Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara Indra Wijaya membenarkan bahwa kapal pengeruk sampah sudah lama tidak beroperasi di kawasan pantai Marunda. Sehingga, ia tidak bisa memastikan kapan sampah-sampah di pantai publik, kawasan pantai Marunda, bisa dibersihkan. "Satu dari lima kapal pengangkut sampah yang ada sedang rusak, dan sudah lebih dari tiga minggu ini," kata Indra.

Akibatnya, kapal pengeruk sampah yang tersisa hanya mampu mengangkut sampah di daerah Muara Baru dan hutan mangrove. Sedangkan pantai Jakarta Utara memiliki panjang sekitar 32 kilometer. "Selebihnya, kami tidak sanggup," ujar dia.

Lima kapal pengeruk sampah yang dimiliki Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara terdiri dari satu kapal besar dan empat kapal kecil. Kapasitas total sampah yang bisa terangkut dalam sehari adalah sekitar 50 meter kubik. "Sedangkan sampah yang ada jauh melebihi dari kapasitas yang ada," katanya. "Apalagi kalau hujan datang, sampahnya bisa lebih banyak lagi."

WAHYUDIN FAHMI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X