TEMPO/Adri Irianto
Topik
Sang Pemimpi
TEMPO Interaktif, Dari mimpi, eksperimen, hingga cinta. Sibuk di ranah hiburan menjadi pembawa acara program televisi, penyanyi, bintang sinetron, dan model tak lantas membuat Ivan Gunawan lupa pada jalur profesi semula, perancang busana. Hadirnya pergelaran koleksi busana di Jakarta Fashion Week 09/10, Selasa pekan lalu, memberi penegasan bahwa Ivan Gunawan masih eksis, konsisten, dan serius di dunia mode yang digeluti sejak 2004.Ke-35 rancangan Ivan mengetengahkan tema "Symphony of My Dream", yang diwujudkan dari hasil mimpi-mimpinya. "Saya ini pemimpi. Mimpiku selalu penuh warna dan gaun-gaun ini adalah khayalan yang ada dalam imajinasi ketika menyiapkan peragaan," kata Ivan seusai peragaan. Dia memang memiliki sisi feminin dalam penampilannya dan merancang busana seperti ingin dikenakan sendiri.
Diakui Ivan, peragaan di acara tersebut merupakan show besar pertama yang ia tunggu-tunggu. Rencana awal, Juli silam, ia menyiapkan peragaan besar. Tapi kandas kendati ia tak pernah mengalami mati ide. "Hanya, saya ingin peragaan berbeda," kata keponakan perancang Adji Notonegoro yang pernah menjadi asisten dan bekerja di studio pamannya ini.
Perjalanan ke Bangkok, Thailand, beberapa bulan lalu, membawa Ivan mampir di sebuah toko terpencil yang menjual kain tenun unik jacquard (kain diberi prada) dari sisi warna, tekstur, dan motif sangat kaya ragam. "Motifnya ganas dengan lebar kain kecil," ucap perancang kostum panggung sejumlah penyanyi ini sambil memuji.
Dari kain tenun jacquard ini dibuat rok pensil berpotongan mini dan celana panjang lurus dikombinasikan dengan blus organza detail gelepai (ruffles berlapis-lapis) atau blus lengan gelembung diberi kerut draperi manis.
Detail gelepai (ruffles) menurut Ivan indah. "Saya suka dengan gelepainya yang bergerak-gerak di badan. Auranya sensual, apalagi bahannya organza yang selalu mengikuti arah angin," ujar Ivan mengenai blus organza warna-warni itu.
Peragaan Ivan mencitrakan perancangnya yang pencinta warna cerah. Ia menghadirkan warna-warni permata seperti fuchsia, biru azura, hijau limau, dan kuning matahari. Warna hitam tak dibiarkan sendiri, melainkan dikombinasikan dengan biru malam, ungu terong, perak, dan emas.
"Saya tidak pernah mengeluarkan tren warna, semua warna saya pakai sesuai dengan kebutuhan pemakai busana. Selalu penuh warna," ujar Ivan, yang mengaku belajar merancang busana secara otodidak.
Selain busana yang ekletik, glamor dengan warna meriah, dalam kesempatan ini Ivan mengeluarkan koleksi baru busana pengantin bermerek Love. Nama ini sama dengan butik gaun pengantin yang berada di kawasan Hang Lekir, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ivan menampilkan gaun dengan siluet banyak. Lebar, model duyung, dan ramping. Ia berusaha menabrak pakem warna busana pengantin yang putih dan off white menjadi warna perak, merah jambu bedak (dusty pink).
Bros besar, korsase, dan pita menjadi detail menambah keindahan, selain pemakaian bulu-bulu binatang sebagai daya tarik memikat. "Stok toko bulu sampai habis saat saya buat baju pengantin memakai bulu," ujar Ivan tentang waktu 3 bulan membuat busana eksperimen itu.
Detail kupu-kupu hadir dalam teknik laser cut (pernah menjadi tema koleksi peragaan desainer Chenny Han) menurut Ivan juga merupakan bagian dari baju pengantin eksperimennya. "Saya suka memakai kristal sebagai detail. Banyak kristal saya sebar di baju pengantin ini, 6 sampai 7 warna," ujar Ivan, yang meniadakan payet pada koleksi awal peragaan tersebut.
Keseluruhan penampilan koleksinya kali ini menggabungkan rancangan; penampilan khusus penyanyi kawakan Vina Panduwinata, yang menyenandungkan lagu Aku Cinta Kepadamu; Mulan Jameela, yang membawakan Cinta Mati; dan pemetik harpa Ussy Pieters. Benang merahnya cinta. Ivan telah menorehkan cintanya.
EVIETA FADJAR