Infografis
Cina Eratkan Hubungan Bisnis dengan Indonesia
TEMPO Interaktif, Jakarta - Peringatan 60 tahun hubungan Cina dan Indonesia yang akan berlangsung tahun depan dapat dijadikan momentum penting untuk meningkatkan hubungan yang lebih erat kedua negara dalam berbagai bidang, terutama bisnis.
Kamis ini Wakil Presiden Boediono menerima kunjungan kehormatan Huang Mengfu, Vice Chairman of the National Committee of the Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) dan Chairman of All China Federation of Industry & Commerce (ACFIC). Huang membawa 9 delegasi yang sebagian besar merupakan ketua asosiasi pengusaha di Cina.
"Cina menginginkan jalur komunikasi yang intensif antara kedua negara," kata juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat di Kantor Presiden, Kamis (26/11). Untuk itu, Cina ingin membentuk pusat data dan informasi.
Hal ini, akan memudahkan pemerintah Cina jika ingin berinvestasi di Indonesia. "Cina sangat mendorong para pengusahanya untuk berinvestasi," kata dia. Terutama, investasi yang masuk langsung ke sektor-sektor riil.
Menurut Yopie, Cina juga menanyakan perubahan kebijakanmenyangkut iklim investasi. Boediono sendiri dalam kesempatan itu menyatakan perbaikan investasi akan menjadi prioritas utama. "Indonesia akan sangat senang jika bisa belajar dari Cina mengenai cara terbaik menarik investasi," ujarnya.
Cina merupakan contoh sukses negara yang bisa menarik investasi asing dalam jumlah besar setiap tahunya. Saat ini, cadangan devisa Cina lebih dari US$ 2,2 triliun. Angka ini, jauh lebih besar ketimbang cadangan devisa Indonesia yang hanya US$ 64 miliar. Cina ingin mendiversifikasi cadangan devisanya, tidak hanya dalam bentuk mata uang dolar Amerika.
Menurut Yopie, Wakil Presiden Boediono menyarankan salah satu cara mengelola cadangan devisa dengan diversifikasi, tidak hanya finansial tetapi juga investasi riil di berbagai negara. Hal tersebut juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi krisis finansial.
GUNANTO E S