Topik
Euro Taklukkan Dolar dan Yen di Tengah Isu Dubai
TEMPO Interaktif, Jakarta - Nilai tukar euro naik terhadap dolar Amerika Serikat dan yen Jepang di Asia, Senin (30/11), saat investor memborong mata uang Eropa itu pasca kekhawatiran berkembangnya isu Dubai World seiring keputusan bank sentral Uni Emirat Arab, Ahad lalu, yang menawarkan dana baru.
Namun para pedagang pasar uang mengatakan penguatan euro boleh jadi akan terus bertahan dalam beberapa hari ke depan saat investor enggan menanggung risiko sebelum memastikan krisis keuangan Dubai World tidak akan memburuk.
Langkah bank sentral UEA tersebut menggugah animo investor membeli aset-aset yang lebih berisiko di pasar Asia Senin ini, yang memicu pembelian euro oleh para pengelola dana Asia dan menggiring euro ke level US$ 1,5085.
"Saat ini, isu Dubai muncul lebih stabil bagi pasar ketimbang yang terjadi Jumat lalu," kata Jun Kato, Deputi General Manajer di Shinkin Central Bank.
Pada Senin sore, euro bertahan di US$ 1,5070, dari US$ 1,4955 Jumat malam di New York. Terhadap yen, euro mantap di posisi 130,14 ketimbang posisi sebelumnya di 129,71. Euro bisa mendekati US$ 1,5100 dan 131,50 jika bursa global menguat seiring kenaikan harga saham di Asia.
Bank sentral Uni Emirat Arab (UEA) sebelumnya mengatakan akan “mendukung" perbankan asing dan lokal yang bakal menghadapi kerugian dari kemungkinan gagal bayar yang menimpa Dubai World, dan menawarkan akses tambahan pendanaan di bawah fasilitas baru.
Dalam pernyataannya lewat surat elektronik, Ahad (29/11), bank sentral akan menyediakan bagi bank-bank tersebut "fasilitas likuiditas tambahan khusus dalam rekening baru" di bank sentral yang dapat ditarik dengan bunga 0,5 persen di atas suku bunga tiga bulanan sertifikat bank sentral UEA.
“Kabar ini menjadi langkah yang sangat meyakinkan dari bank sentral untuk membatasi risiko setiap bank yang bermarkas di Dubai,” kata John Sfakianakis, kepala ekonom di Banque Saudi Fransi, Riyadh, Arab Saudi. "Langkah itu juga bakal mengurangi kekhawatiran likuiditas oleh perbankan asing terhadap sistem perbankan, yang kebanyakan bermarkas di Dubai."
Pejabat Dubai World yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan para konglomerat yang menguasai perusahaan investasi itu menolak kemungkinan penjualan beberapa aset dengan harga diskon untuk menutupi sebagian utang US$ 60 miliar milik Dubai World.
Harian Al-Itihad yang terbit Ahad lalu mengutip sumber dari dalam mengatakan, bulan lalu Dubai World "menolak ide penjualan beberapa aset investasi dan real estate."
Dubai World memiliki proyek mulai dari pelabuhan hingga real estate. Harian itu menyebutkan Rabu lalu, Dubai World meminta penangguhan pembayaran utang selama minimal enam bulan yang juga akan melindungi anak perusahaan propertinya, Nakheel PJSC. Nakheel memiliki utang US$ 3,5 miliar yang harus dilunaskan bulan depan.
Dubai World per Agustus lalu memiliki kewajiban US$ 59 miliar dari total utang US$ 80 miliar. Lembaga bisnis itu memiliki investasi dalam bidang transportasi dan logistik, galangan kapal, dan kelautan, pembangunan perkotaan sampai investasi dan jasa keuangan.
Kabar tersebut mengguncang pasar global dan menciptakan ketakutan baru bahwa perbankan terpukul oleh resesi keuangan global akibat dipaksa menelan kerugian-kerugian baru.
DOW JONES | AP | BLOOMBERG | BOBBY CHANDRA