Presiden Minta Semua Data Century Dibuka

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) membuka semua data terkait kasus Bank Century.

"Saya juga minta, karena beredar isu, dana itu mengalir ke ini, ke itu, tak baik saling mencurigai, buka!" kata Presiden dalam sambutannya di pembukaan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ke 23 di Istana Negara, Rabu (02/12).

Kepada PPATK, Presiden meminta untuk membuka jika ada transaksi yang mencurigakan, yang mengait dana sebesar Rp 6,7 triliun yang dikucurkan untuk menyelamatkan Bank Century. "Supaya terang benderang," katanya.

Presiden ingin agar tidak ada rumor dan desas-desus apalagi fitnah dari aliran dana tersebut. "Sakit, dan kasihan seorang difitnah terima sekian ratus M, terima sekian puluh M anaknya, cucunya, ayahnya."

Permintaan yang sama juga dialamatkan kepada LPS yang menyalurkan Rp 6,7 triliun. "Ceritakan ke mana uang itu, tahapanya seperti apa, BUMN terima berapa, perusahaan terima berapa, perorangan terima berapa, nasabah yang yang di atas Rp 2 miliar terima berapa, yang di bawah Rp 2 miliar terima berapa, ada nggak yang berkaitan yang dirumorkan, difitnahkan sekarang ini, bikin terang," katanya.

Transparansi dan keterbukaan, kata Presiden, merupakan ciri peradaban yang baik dan demokrasi yang sehat. "Kita tidak akan punya masa depan ibu-ibu, kalau negeri ini terus ada intrik fitnah pembunuhan karakter dan sebagainya. Mari buka semuanya, seterang-terangnya agar rakyat juga semakin gamblang," katanya.

Menurut Presiden, dalam kasus Century yang diinginkan rakyat adalah mendapatkan penjelasan yang gamblang. Misalnya, apa ada kejahatan, apa ada korupsi, apa ada dana mengalir yang tidak semestinya dan bagaimana pelaku pengelola Bank Century yang melanggar hukum. "Mari kita jawab, mari bikin terang," katanya.

Presiden pun menyambut baik langkah DPR yang menggunakan hak angket menindaklanjuti hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). "Bagus, mari kita bikin terang," katanya. Ditegaskanya, Ia pun ingin persoalan tersebut bisa segera diselesaikan dengan baik. "Ceritakan kebenaran, fakta, jangan fitnah".

Yudhoyono kembali menyebutkan ada fitnah dan pembunuhan karakter yang dinilainya sudah keterlaluan beredar bersamaan dengan merebaknya kasus tersebut. Hal itu adalah berita tentang beredarnya aliran dana dari dana penyelamatan Bank Century kepada tim politik SBY saat pemilu lalu. "Satu rupiah satu rupiah pun, kalu itu uang haram, tidak terpikir, tidak ada niat seperti itu," katanya.

Ia pun mendukung bagi pihak yang merasa dirugikan untuk memperoses hukum dan mencari keadilan. "Ini negara hukum. Keadilan harus tegak bukan karena lemparan fitnah dari mereka-mereka yang tak bertanggung jawab. Kita ingin semuanya dibuka habis-habisan," katanya.

Terhadap kasus itu sendiri, Presiden ingin agar proses hukum terhadap pengelola Bank Century dipercepat. Untuk dua orang yang kabur ke luar negeri, ada pengadilan in absentia. Menurutnya, pemerintah juga sudah meminta pembekuan aset bank tersebut di luar negeri. "Jumlahnya konon lebih dari Rp 11 triliun. Saya ingin yang milik negara, milik rakyat, segera dikembalikan," katanya.

Lebih lanjut, meskipun dana yang dikucurkan untuk talangan adalah dana LPS bukan APBN, Bank Century harus betul-betul memenuhi kewajibannya. Dengan demikian, tidak ada yg menjadi korban. "Saya ingin dipercepat dan mudah-mudahan dengan dukungan semua pihak proses pengadilan bisa dipercepat dalam waktu yang tak terlalu lama," katanya.

GUNANTO E S