TEMPO/Adri Irianto
Topik
Modern Etnik
TEMPO Interaktif, Wajah-wajah bening, rambut tertata, sepatu hak tinggi, dan gaun warna-warni meramaikan sudut Pacific Place, Jakarta, malam itu. Berbagai perhiasan menyala di leher, telinga, tangan, dan jemari mereka. Tak lupa tas bermerek. Mereka bukan shopaholic yang mengejar diskon tengah malam.
Mereka juga bukan sosialita yang hendak berpesta. Mereka adalah pemuja mode di perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2009/2010, dua pekan lalu.
Perancang dari Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) menghadirkan puluhan kreasinya. Aneka sentuhan tradisional, seperti batik tulis, anyaman ikat, kain songket, dan tenun, menyatu dalam potongan busana era modern.
Matang dalam konsep serta berkarakter dalam menelurkan desain terbaru dicoba ditampilkan oleh Ghea Panggabean dan Kanaya Tabitha dari IPMI.
Lewat "Spirit of Java", Ghea terinspirasi oleh busana wayang orang, penari keraton, hingga kostum priayi Jawa. Motif yang diangkat adalah cinde. Motif cinde adalah sebutan untuk patola, kain berbahan sutra dengan warna dasar merah, yang merupakan tenun ikat ganda bermotif cantik.
Di Keraton Yogyakarta dan Solo, cinde biasa digunakan sebagai kain pengantin keluarga keraton dan penari Bedoyo Ketawang. Dengan latar foto-foto hitam-putih bangsawan Jawa, para model menampilkan karya-karya print Ghea, yang diaplikasikan ke busana gaya 1980-an, yang sekarang kembali, dari elaborate shoulder pada jaket, blus dan rok mini, sampai <I>high waisted pants, skirt<I>, serta draperi pada celana dan rok.
"Saya serasa bernostalgia dengan menerapkan rancangan pada velvet, chiffon, satin, dan Thai silk, dengan warna yang melambangkan busana priayi Jawa, seperti hitam, marun, hijau emerald, serta hijau kunyit," tutur Ghea, yang tahun depan akan merayakan tahun ke-30 berkiprah di dunia fashion. "Aplikasi bordir sulam emas dan lambang mahkota sebagai pemanis."
Beda lagi Kanaya Tabitha, yang mengusung tema "Rockerysistah", yang ultrafeminin. Berkolaborasi dengan VJ Marissa, Kanaya mengangkat line terbaru mereka, yaitu Kata. Koleksinya berupa busana cocktail siap pakai berkonsep sosok rocker perempuan yang kuat.
Materi yang dipakai murni sutra alam dan juga zat pewarna alam. "Untuk memperoleh efek rockerysistah ini, saya banyak menggunakan bahan velvet, jersey, lather, dan frill. Juga warna yang kuat, seperti hitam pekat, silver, dan fuchia violet," Kanaya menjelaskan dalam rilis JFW.
Tengoklah karya Poppy Dharsono dari APPMI. Lewat "Recapturing Banyumas", ia menyuguhkan gaun kuning, bolero batik ungu, dan blus putih berlengan balon dipadu dengan rompi batik merah. Ada pula bustier pink, yang dipadu dengan celana batik ungu.
Adapun Ian Adrian memilih tenun Donggala dari Sulawesi Tengah. Bertajuk "Bomba Toveaku", yang dalam bahasa Kaili (bahasa suku di Lembah Palu) berarti bunga cinta, ia menampilkan gaun-gaun mini dalam warna biru langit cerulean.
"Warna yang saya pakai dominan biru, karena biru melambangkan kasih sayang," kata Ian. Kalung dramatis, anting mewah, serta rangkaian kristal dan manik-manik memberi sentuhan modern dalam koleksinya. Ada gaun mini dengan bolero, celana dan rompi, serta rok balon dengan atasan satu tali yang menunjukkan karakter perempuan feminin, seksi, dan bebas.
Blus, rok, blazer, celana superpendek, bolero, celana 7/8, jubah panjang, serta gaun berpotongan longgar dengan detail etnik, seperti tenun dan batik, adalah karya terbaru Dini Midriani. Tema "Pilgrim" menggambarkan busana peziarah dalam kehidupan. Corak urban yang kuat muncul dalam permainan tekstur dan detail etnik batik serta tenun.
Kasmaran Avantie
Sekat panggung terbuka. Bak dewi yang turun dari langit, Arzetti Bilbina berjalan anggun di panggung. Sesekali wajahnya terangkat angkuh bak seorang dewi. Kebayanya bertaburan rupa-rupa motif batik dari Semarang, Solo, Yogyakarta, Lasem, hingga Pekalongan. Di antara guyuran blitz kamera, peragaan itu menyihir kaum fashionista di Pacific Place, Jakarta.
Sang perancang, Anne Avantie, sedang jatuh cinta. Kecintaannya pada budaya Jawa membuat desainer kelahiran Solo ini menyatukan motif-motif batik dengan karakter dan ciri berbeda dalam selembar kain tanpa sekat. Bahan renda Prancis, tule Inggris, sulam benang ulat sutra, rajut, dan organdy print menunjukkan kemahirannya.
Hiasan sumping dari kulit wayang menjadi aksesori dalam kebaya-kebaya feminin itu. Ada kebaya berlengan pendek, panjang, berlengan balon, hingga berlengan kimono. Adapun pesinden melantunkan kidung melodi Smaradhana saat ke-12 model membawakan kebaya yang dirancang dengan penuh cinta. Sebanyak cinta yang diterima Avantie lewat kembang dan keplok meriah dari para pemuja mode.
Amandra MM