Bank Sulawesi Selatan Berambisi Dongkrak Ekspor Tani

TEMPO Interaktif, Makassar - Bank Sulawesi Selatan menyiapkan skema kredit mikro untuk melayani Sistem Resi Gudang yang akan dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) pada triwulan pertama 2010 di enam kabupaten sentra produksi beras, jagung, rumput laut dan kakao.
Petani
Komisaris Bank Sulawesi Selatan, N Ikawidjaya mengatakan rencana pelaksanaan Sistem Resi Gudang merupakan terobosan untuk mengangkat potensi daerah, petani serta kelompok tani. Resi Gudang akan membantu petani dan kelompok tani untuk mendapatkan kepastian harga tertinggi dari perbankan.

“Secepatnya kami akan mengarahkan para direksi di Bank Sulsel untuk menyiapkan skema kredit resi gudang,” kata Ika usai mengikuti sosialisasi Penerapan Resi Gudang di Kantor Bank Indonesia Cabang Makassar, Jumat (4/12).

Rencana pelayanan kredit resi gudang itu nantinya akan mendekatkan petani dengan lembaga keuangan perbankan. Ada dua sistem pelayanan kredit yang akan dirancang, yakni resi gudang dan commodities management agreement (CMA).

Dia menjelaskan, Bank Sulawesi Selatan menjalankan layanan kredit resi gudang dan CMA sekaligus. Namun semua ditentukan kapasitas petani dan kemampuan bayar. Jika petani termasuk debitur pemula maka akan ditawarkan layanan kredit resi gudang. “Kredit CMA biasanya diberikan kepada kelompok tani atau pengusaha berpengalaman. Namun kita bisa menjalankan kedua layanan kredit itu,” tutur dia.

Ambisi Bank Sulawesi Selatan itu untuk mendukung program pemerintah provinsi dalam meningkatkan produksi dan ekspor delapan komoditi unggulan, di antaranya beras, jagung, rumput laut, kakao, udang, dan sapi. Jika direksi Bank Sulawesi Selatan dapat merealisasikan maka usaha dan kesejahteraan petani akan lebih baik.

Layanan kredit resi gudang pun merupakan bagian untuk mendorong kegiatan ekspor. Serta mentransformasi petani menjadi petani ekspor pada 2010. Dia optimistis rencana layanan kredit resi gudang dapat berjalan karena bank langsung berhubungan dengan petani.

Namun Bank Sulawesi Selatan tidak akan memberikan kredit resi gudang melalui petani perorangan. Alasannya, petani perorangan sangat tidak memenuhi syarat perbankan dan hanya memiliki produksi dalam jumlah kecil. Bank Sulawesi Selatan akan memberikan kredit melalui kelompok tani.

“Agak sulit untuk memberikan kredit melalui perorangan karena produksi yang kecil. Satu-satunya cara yang paling bagus dengan melalui kelompok tani masing-masing,” tutur dia.

Dia meminta Dinas Perindustrian di 23 kabupaten untuk segera melaksanakan sosialisasi resi gudang agar petani dapat lebih memahami. Selain itu sosialisasi juga untuk memutuskan mata rantai tengkulak dan makelar yang selama ini selalu memainkan harga sehingga petani sering dirugikan.

Pimpinan Grup Komersil Bank Sulsel, Muh Daenur Hafsir mengatakan, sektor pertanian merupakan garapan utama untuk mendapatkan fasilitas kredit mikro. Resi gudang, menurut Daenur, salah satu sasaran yang akan segera digarap dengan menyediakan kredit dan bunga murah.

Komitmen menggarap sektor pertanian itu lewat kucuran kredit murah bagi petani. Rencananya, Bank Sulawesi Selatan akan memberikan bantuan handtractor sebanyak 50 unit untuk petani di Kabupaten Pinrang. “Resi gudang bagian dari sektor pertanian yang harus digarap maksimal. Perbankan salah satu indikator yang dapat membantu petani meningkatkan kesejahteraannya,” tutur dia.

SULFAEDAR PAY