Topik
Anak Usaha Dubai World Telan Kerugian Rp 34 Triliun
TEMPO Interaktif, Jakarta - Nakheel PJSC, perusahaan properti milik Dubai World yang meminta penundaan pembayaran utang, menelan kerugian 13,4 miliar dirham atau sekitar US$ 3,65 miliar (setara Rp 34,5 triliun), pada semester pertama tahun ini saat harga-harga properti menukik tajam di kawasan Teluk.Berdasarkan dokumen keuangan milik Nakheel--perusahaan yang tengah membangun pulau berbentuk pohon palem di teluk kerajaan--kinerja tersebut menjadi catatan buruk jika dibandingkan laba 2,65 miliar dirham yang diraih setahun sebelumnya. Penjualan jatuh 78 persen menjadi 1,97 miliar dirham. Namun juru bicara Dubai World, perusahaan induk Nakheel, enggan memberi komentar.
Dubai World, perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah, memulai perundingan dengan beberapa bank untuk merestrukturisasi utang US$ 26 miliar, termasuk obligasi syariah atau sukuk senilai US$ 3,52 miliar milik Nakheel yang jatuh tempo pada 14 Dsember mendatang. Dubai World mengadakan pembicaraan dengan enam kreditor kemarin.
Menurut dokumen tersebut, Nakheel menurunkan nilai lahan dan beberapa properti yang sedang dibangun hingga 12,2 miliar dirham setelah harga-harga real estate anjlok. Nakheel terpaksa memangkas belanja modal dengan memperlambat ataupun menjadwalkan ulang proyek-proyek hingga 2012.
Dubai World memiliki proyek mulai dari pelabuhan hingga real estate. Pada 25 November lalu, Dubai World meminta penangguhan pembayaran utang selama minimal enam bulan yang juga akan melindungi anak perusahaan propertinya, Nakheel PJSC. Nakheel memiliki utang US$ 3,5 miliar yang harus dilunaskan bulan depan.
Dubai World per Agustus lalu memiliki kewajiban US$ 59 miliar dari total utang US$ 80 miliar. Lembaga bisnis itu memiliki investasi dalam bidang transportasi dan logistik, galangan kering dan kelautan, pembangunan perkotaan sampai investasi dan jasa keuangan.
Kabar tersebut mengguncang pasar global dan menciptakan ketakutan baru bahwa perbankan terpukul oleh resesi keuangan global akibat dipaksa menelan kerugian-kerugian baru.
AP | BLOOMBERG | BOBBY CHANDRA