indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Pengusaha Pilih Tanam Singkong Ketimbang Sawit


TEMPO Interaktif, Jakarta - PT Citra Kebun Raya Agri Tbk lebih mengutamakan agrobisnis singkong ketimbang kelapa sawit dengan membuat dua pabrik pengolahan (singkong) di Bengkulu dan Lampung. Pabrik tersebut digunakan untuk pengolahan singkong menjadi tepung tapioka. Singkong diutamakan karena masa tanam hingga panen lebih singkat daripada kelapa sawit.

“Kami mengutamakan perkebunan singkong 70-75 persen proyek, sedangkan untuk kelapa sawit 25-30 persen,” kata Direktur Utama Citra Kebun Andre Leong di Jakarta, Rabu (9/12).

Untuk pembuatan dua pabrik tepung tapioka itu dibutuhkan dana Rp 80 miliar per unit yang diambil dari hasil pemesanan hak efek terlebih dulu atau rights issue beberapa waktu lalu senilai total Rp 1,2 triliun. Saat ini perseroan telah memiliki 85 ribu hektar lahan perkebunan singkong dan kelapa sawit di Lampung, Bengkulu dan Riau.

Pembangunan kedua pabrik tersebut merupakan upaya yang ditempuh perseroan untuk menggenjot bisnis perkebunan. Pabrik yang dibangun itu nantinya mampu memproduksi tepung tapioka sebesar 150 ton per jam per unit yang hasilnya akan dipasarkan ke Jepang dan Cina.

Menurut komisaris perseroan Kelly Setiadi Kurnia, pada Juni 2009 perseroan memiliki aktiva Rp 1,268 triliun atau meningkat Rp 1,004 triliun dari aktiva 2008 yang hanya Rp 263,273 miliar. Aktiva tersebut meningkat drastis karena pihaknya mengakuisisi PT Horizon Agro Industry.

Hingga akhir September lalu total aktiva perseroan mencapai Rp 1,40 triliun, atau naik 2.385 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 56,41 miliar. Di sisi ekuitas, perseroan mencatat hingga akhir September mencapai Rp 1,22 triliun, atau naik 2,464 persen dari periode tahun sebelumnya Rp 47,61 miliar.

”Kami memilih untuk mengembangkan perkebunan singkong karena masa tanam hingga panen lebih singkat yaitu sembilan bulan, sedangkan kelapa sawit dibutuhkan waktu lima tahun,” kata Kelly.

MUH SYAIFULLAH

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X