Jepang Kucurkan Pinjaman Rp 3,7 Triliun untuk Program Perubahan Iklim

TEMPO Interaktif, Denpasar - Pemerintah Jepang berkomitmen untuk memberikan pinjaman senilai US$ 400 juta atau sekitar Rp 3,7 triliun untuk program perubahan iklim. Bantuan itu terangkum dalam Climate Change Program Loan yang bertujuan untuk membantu kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim, terutama, di sektor kehutanan dan energi.

"Itu bagian dari kerjasama bilateral Indonesia dan Jepang," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers disela acara Bali Democracy Forum II di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12).

Selain itu, Jepang juga memberikan bantuan untuk proyek pembangunan jembatan di Nusa Tenggara Barat senilai US$ 5,45 juta. Kemudian, pembangunan jembatan tahan gempa di Pulau Nias senilai US$ 16,9 juta.

Kedua negara juga berkomitmen untuk mensukseskan konvensi PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark pertengahan Desember mendatang. Seperti diketahui, Indonesia mentargetkan penurunan emisi hingga 26 persen sampai 2020. "Kerjasama antara kedua negara sangat perlu agar target 26 persen bagi Indonesia bisa dicapai," katanya.

Presiden Yudhoyono juga menyambut baik kerjasama yang ditawarkan Jepang dalam pelatihan menghadapi bencana alam. Hal itu nantinya akan disusun dalam Forum Regional Asean untuk Penanggulangan Bencana Alam yang akan dilaksanakan di Manado tahun depan.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama menyatakan Indonesia merupakan penerima pertama dari program Japanese Overseas Development Agrement (ODA) Loan. Hal itu merupakan bagian dari Hatoyama Initiatives. "Kita berharap ada upaya lebih lanjut untuk mengatasi perubahan iklim di Indonesia," katanya.

Hatoyama menyatakan komitmenya untuk mendukung semua bentuk kerjasama yang bermanfaat bagi kedua negara.

Terkait dengan target penurunan emisi yang dipasang Indonesia, Hatoyama menilai hal itu merupakan target yang sangat berani. namun, ia menilai hal itu bisa dicapai. "Saya sangat menghargai target ini dan kita harus memastikan COP 15 tidak akan gagal," katanya. Kerjasama kedua negara, kata Hatoyama, dibutuhkan agar hal itu bisa tercapai.


GUNANTO E S