Korban Kebakaran Tambora Membutuhkan Air Bersih

TEMPO Interaktif, Jakarta - Korban kebakaran di Jembatan Besi kekurangan air bersih. Akibatnya, kebutuhan mandi, cuci, dan buang air terhambat.

"Sama sekali tidak ada air bersih. Apalagi, listrik di sini padam," kata Estiningsih, istri Ketua Rukun Warga 08, Jembatan Besi, Tambora, di posko kebakaran, Sabtu (12/12).

Kamis (10/12) petang, pemukiman wilayah RW 08 Jembatan Besi, Tambora terbakar. Api diduga berasal dari korsleting listrik di sebuah rumah kontrakan di wilayah RT 05. Estiningsih mengatakan enam dari tujuh RT di wilayah RW 08 terbakar. Kebakaran itu berakibat petugas pemadam kebakaran, Sulistyo Putranto, tewas karena tertimpa reruntuhan bengunan.

Kebakaran yang terjadi di Jembatan Besi menghanguskan 177 bangunan di RW 08, dua bangunan di RW 09, dan 12 bangunan di RW 010. Sekitar 243 keluarga (1.578 jiwa) kehilangan tempat tinggal. Korban kebakaran tinggal sementara di delapan tenda di lapangan bola Persima. Tempat penampungan sementara itu terletak tak jauh dari pemukiman yang terbakar. Dapur umum rencananya aktif selama sepekan.

Esti mengatakan WC umum sama sekali tak ada di wilayah RW 08. Namun, pemerintah telah meminjamkan WC yang dapat dipindahkan. Namun, kegiatan mandi, cuci, dan buang air tetap terhambat. Hingga kini, tak ada air bersih yang tersedia untuk pengungsi. Apalagi, aliran listrik di pemukiman tersebut mati sejak kemarin. "Sudah ada bantuan MCK mobile tapi tak ada air," ujarnya.

Sebagian besar pengungsi, kata dia, tak mandi sejak kebakaran dua hari lalu. Sejumlah korban kebakaran pergi ke MCK umum yang berada di Kelurahan Kali Anyar. "Kalau mau mandi atau buang air, warga pergi ke MCK kelurahan sebelah," katanya.

Dia berharap pemerintah maupun pihak lain membantu genzet, air bersih, dan tambahan MCK yang dapat dipindahkan. "Karena di sini nggak ada air bersih," ujarnya.

KURNIASIH BUDI