Siap-siap Stres Liburan  

stressTEMPO Interaktif, Musim liburan di depan mata. Tapi bayangan akan kerepotan, bahkan stres, seperti pekat membayangi. Lihat saja berita-berita soal tiket perjalanan yang ludes dalam sepekan terakhir. Bagi mereka yang mampu, tentu masih ada alternatif membawa kendaraan pribadi. Toh, kerumitan juga tak luruh dari benak, bakal macetkah?

Liburan memang sering menghadirkan kegembiraan serta membawa kesenangan dan kebahagiaan. Paling tepat jika menikmatinya dengan keluarga dan kawan-kawan kita. Aneka rencana sudah dikantongi. Bepergian ke luar kota pun menjadi pilihan menarik.
Namun, bagi banyak orang, musim senang-senang ini memiliki sisi gelap yang membutuhkan perencanaan dan disiplin guna memangkas stres serta menghindari perayaan tanpa kesengsaraan.

Bukan cuma di Indonesia yang segera memasuki musim liburan anak sekolah dan akhir tahun. Di seluruh dunia, Desember identik dengan ritual liburan panjang sekitar 2-3 pekan lamanya--sebelum menghadapi fajar baru 2010.

E. Christine Moll, PhD, seorang profesor konseling dan layanan masyarakat pada Canisius College, Buffalo, New York, Amerika Serikat, mengatakan, bagi banyak orang, liburan adalah saat stres, kesepian, kecemasan, dan disfungsi lain, termasuk 10 kali lipat ketegangan (yang bisa) memicu bunuh diri. Moll, kepada situs Psych Central pekan lalu, menemukan tiga peristiwa yang dapat memicu stres atau depresi.

Pertama adalah hubungan. "Hubungan dapat menimbulkan kekacauan, konflik, atau stres setiap saat. Tapi ketegangan sering meningkat selama liburan. Kesalahpahaman keluarga dan konflik justru bisa intensif," kata Moll. Konflik menggelembung dengan begitu banyaknya kebutuhan dan kepentingan yang butuh diakomodasi. Di sisi lain, jika Anda menghadapi liburan tanpa (ditemani) orang yang dicintai, Anda mungkin mendapat diri Anda kesepian atau sedih.

Kedua adalah (soal) keuangan. "Situasi keuangan Anda bisa memicu stres pada setiap saat sepanjang tahun. Kelebihan pengeluaran selama liburan untuk membeli berbagai hadiah, ongkos perjalanan, makanan, dan hiburan dapat meningkatkan stres saat Anda mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, sementara pada saat yang sama Anda memastikan bahwa setiap orang yang ada dalam daftar hadiah Anda bakal bahagia," tutur Moll.

Ketiga adalah tuntutan fisik. Acara belanja, menghadiri pertemuan-pertemuan sosial, dan menyiapkan makanan buat liburan dapat "menghabisi" fisik Anda. "Merasa lelah jelas meningkatkan stres dan bisa menciptakan lingkaran setan. Maka olahraga dan tidur--penangkal yang baik untuk stres dan kelelahan--bisa dilakukan di antara selama liburan," ujar Moll. "Tuntutan tinggi, stres, kurang olahraga, serta tingkat konsumsi yang berlebihan dalam makanan dan minuman, semuanya adalah hal yang mencemari kebahagiaan liburan."

Lalu apa yang salah, karena saat itu liburan adalah musim akan gembira, tapi Anda merasa apa pun tak riang? "Ketika stres adalah pada puncaknya, itu sulit dihentikan dan menggumpal," Moll menegaskan. Ia juga mewanti-wanti bahwa salah satu kunci meminimalkan stres dan depresi hari libur adalah mengetahui bahwa liburan dapat memicu stres serta depresi.

Moll menambahkan, "Terimalah bahwa banyak hal tak selalu berjalan sesuai dengan rencana." Lalu ambillah langkah-langkah aktif mengelola stres dan depresi selama liburan. "Anda dapat benar-benar menikmati liburan tahun ini lebih dari yang Anda pikir bisa lakukan."



Agar Tak Merajalela

"Ambil langkah-langkah untuk mencegah stres hari libur normal yang bisa berkembang menjadi depresi kronis," ucap Moll. Ia pun memberikan beberapa tip seperti berikut ini.
- Sadari perasaan Anda. Jika orang yang Anda cintai baru saja meninggal atau Anda tak dekat dengannya, sadari bahwa hal itu normal untuk merasa sedih. OK, sekarang dan kemudian meluangkan waktu hanya untuk menangis. Anda tidak bisa memaksa diri menjadi bahagia hanya karena sekarang musim liburan.

- Cari dukungan. Jika Anda merasa terisolasi atau terpuruk, carilah anggota keluarga, teman, komunitas, atau layanan sosial. Mereka dapat memberikan dukungan dan persahabatan. Terlibat dan membantu orang lain dapat mengangkat semangat serta memperluas lingkaran sosial. Anda bisa juga meminta dukungan untuk mengatur hari libur serta persiapannya.

- Realistis. Seperti keluarga yang berubah dan tumbuh, tradisi juga sering berubah. Mungkin seluruh keluarga tidak dapat berkumpul bersama di rumah Anda. Jadi temukan cara baru untuk merayakan bersama-sama dari jauh, misalnya berbagi foto, video, hingga mengobrol via chatting lewat Internet.

- Perbedaan. Cobalah menerima anggota keluarga dan teman-teman seperti mereka, bahkan jika mereka tak menghayati semua harapan Anda. Sisihkan dulu keluhan sampai waktu yang lebih tepat untuk diskusi. Dengan stres dan tingkat aktivitas tinggi, liburan mungkin tidak kondusif. Mengertilah jika orang lain marah atau tertekan ketika ada yang salah. Ingatlah bahwa kemungkinan mereka juga merasakan efek dari stres liburan.

- Perketat anggaran. Sebelum belanja, tentukan berapa banyak yang Anda mampu untuk membeli hadiah dan barang lainnya. Pastikan tetap pada anggaran Anda. Jika bobol dan menggunakan kartu kredit, Anda bakal cemas serta tegang selama berbulan-bulan untuk membayar tagihan.

- Perencanaan. Buatlah perencanaan yang baik menyangkut dana, perbekalan, waktu, hingga rute yang bakal ditempuh. Jangan lupa sisipkan waktu ekstra untuk perjalanan, sehingga keterlambatan tidak akan memperburuk stres Anda.

- Jagalah kebiasaan sehat. Jangan biarkan liburan menjadi saat untuk makan semuanya. Anda harus waspada, meskipun beberapa pengecualian makan atau diet sering dilanggar saat liburan. Siapkan banyak kudapan sehat sebelum berlibur. Jangan lupakan tidur atau beristirahat cukup di tempat liburan.

- Lupakan kesempurnaan. Acara liburan di televisi penuh dengan kegembiraan dan happy ending. Tapi dalam kehidupan nyata, sejumlah hal tak berjalan dengan sempurna. Sesuatu selalu muncul. Maka terimalah bila terjadi sesuatu hal di luar rencana. Lebih baik siapkan antisipasi atau alternatif sebelum Anda terjebak dalam kesulitan dan stres berkepanjangan.

Pysch Central | Canisius College l Dwi Arjanto