TEMPO/Nickmatulhuda
Topik
Saifullah Yusuf : Habitat Kita Adalah Laut
TEMPO Interaktif, Surabaya - Wakil Gubernur Jawa Timur Saifulah Yusuf minta seluruh kegiatan pembangunan memprioritaskan pembangunan kelautan. "Kita harus berpaling ke laut, karena habitat kita adalah laut," kata Saifullah Yusuf ketika membacakan sambutan menteri Kelautan dalam upacara peringatan hari Nusantara di kantor dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Selasa (15/12).
Di Indonesia 75,3 persen wilayah memang berupa laut dengan 5,8 juta km total wilayah laut yang terbagi 3,1 juta km wilayah kedaulatan laut dan 2,7 juta km zona ekonomi eksklusif.
Karenanya, tambah Saifulah, Indonesia setidaknya memiliki 95181 Km panjang garis pantai. "Ini semua berkat perjuangan insinyur Djuanda yang sukses mendeklarasikan wilayah kedaulatan Indonesia," kata Saifullah.
Menurut dia, luas wilayah laut yang dimiliki Indonesia memang lahir setelah deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 lalu, dimana saat itu, Ir Djuanda menyatakan jika demi keamanan Indonesia, maka laut disekitar, diantara dan didalam seluruh wilayah Indonesia adalah milik Indonesia.
"Dulunya wilayah laut hanya 3 mil dari pantai, tapi sejak saat itu tidak lagi," kata Saifulah.
Sementara itu, peringatan hari Nusantara di Jatim, setidaknya diikuti oleh 750 peserta dari perwakilan PNS di Dinas-dinas dilingkungan Pemprov Jatim serta kepolisian, dan personel TNI.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Kardani mengatakan, potensi hasil laut Jatim sangat besar. "Tahun ini saja ekspor ikan kita tebesar atau sekitar 270 ton," kata dia.
Ekspor sebesar itu, tersebar ke 40 negara dengan tujuan terbesar Amerika dan Eropa. Menurut dia, di Jatim sendiri penghasil ikan terbesar adalah perairan kawasan laut selatan.
Meski besar, namun potensi kerusakan terumbu karang sebagai rumah bagi habitat ikan juga sangat tinggi atau mencapai 50 persen terumbu karang telah rusak. Karenannya, dinas Perikanan dan Kelautan saat ini terus menggalakan penanaman terumbu karang buatan.
"Tahun ini kita bikin didua tempat yaitu Situbondo dan Sampang dengan masing-masing 50 unit terumbu karang," terang dia. Minimnya anggaran menurut dia membuat penanaman terumbu karang tidak bisa dilakukan diseluruh wilayah. "Satu unit berisi lima kubus terumbu, padahal harga satu kubus mencapai Rp 660 ribu," tegas dia.
Meski demikian dirinya berharap, penanaman terumbu karang bisa terus dilakukan mengingat jumlah nelayan di Jatim saat ini terus meningkat dan telah mencapai 293 ribu nelayan dengan jumlah perahu mencapai 40 ribu lebih.
ROHMAN TAUFIQ