Media Diminta Ikut Pulihkan Pariwisata Sumatera Barat

TEMPO Interaktif, Padang - Dinas Pariwisata Sumatera Barat Rafles meminta media massa nasional dan internasional membantu memulihkan kembali citra pariwisata Sumatera Barat pasca gempa 7,9 skala Richter 30 September.

Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat James Hellyward mengatakan pascagempa wisatawan takut berkunjung ke Sumatera Barat. Apalagi pemberitaan hancurnya sejumlah fasilitas pendukung pariwisata, seperti hotel, restoran, dan beberapa objek wisata di Kota Padang akibat gempa membuat wisatawan enggan ke Sumatera Barat.

Untuk memulihkan citra pariwisata pascagempa, Departemen Pariwisata sebelumnya sudah membawa 25 wartawan dari Jakarta untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata di Sumatera Barat.

"Kita juga sudah mengundang lima wartawan dari Malaysia serta biro perjalanan Malaysia berkunjung ke Sumatera Barat karena selama ini turis dari Malaysia adalah turis terbesar ke Sumatera Barat," kata James Hellyward, Selasa (15/12).

Ia mengatakan pemberitaan gempa seakan memperlihatkan seluruh Sumatera Barat hancur, padahal hanya hotel-hotel di Kota Padang yang rusak, sedangkan "jantung" pariwisata Sumatera Barat seperti Kota Bukittinggi dan Tanahdatar tidak kena gempa, kondisinya aman-aman saja.

Menurunya kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat sangat dirasakan pengusaha biro perjalana dan hotel-hotel di Bukittinggi. Ketua Association of Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Bukittinggi B. Rafles mengatakan pasca gempa membuat banyak wisatawan Malaysia tiba-tiba membatalkan rencana kunjungannya.

"Sejak gempa 30 September tidak ada lagi yang datang. Biasanya tiap hari saya kedatangan tamu sampai dua bis yang harus di jemput di Bandara Internasional Minagkabau. Sekarang tidak ada lagi," kata B. Rafles yang juga pemilik travel agen Tigo Balai Tours di Bukittinggi.

Padahal, sejak lima tahun terakhir sedikitnya 1.500 turis, sebagian besar dari Malaysia, berkunjung ke Sumatera Barat setiap bulan. Tujuan utama mereka adalah ke Kota Bukittinggi dan Tanahdatar.

Biasanya, kata Rafles, setiap Desember perusahaan biro perjalanan kerepotan melayani turis, terutama dari Malaysia. Kini semuanya menganggur karena kehilangan wisatawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bukittingi, Syafroni Falian, memperkirakan tingkat hunian hotel di Bukittinggi turun hingga 50 persen setelah gempa 30 September.

"Turis dari Malaysia beralih ke Jawa. Yang dari Pekanbaru yang biasanya berakhir pekan ke Bukittinggi beralih ke Malaysia," katanya.

FEBRIANTI