Infografis
'Ngeper' dengan Century, Transaksi Bursa Turun
TEMPO Interaktif, Jakarta - Polemik kasus penyelamatan Bank Century oleh pemerintah dan Bank Indonesia yang terus bergulir membuat transaksi harian di Bursa Efek Indonesia menurun. Dalam sepekan ini, transaksi harian yang biasanya sekitar Rp 4,5-7 triliun rontok hingga mencapai Rp 2-4,5 triliun."Investor masih wait and see karena tidak ada solusi yang jelas," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito di Jakarta, Rabu (16/12). Penurunan transaksi harian ini merupakan sinyal dari investor yang menginginkan kasus Century selesai secepatnya.
Menurut Ito, pemerintah harus bisa menjaga kepercayaan investor terhadap pengambil kebijakan ekonomi Indonesia. Mereka sangat memperhatikan siapa anggota tim ekonomi di dalam pemerintahan. "Jika ada keraguan, bisa saja membuat investor mengalihkan investasinya," katanya.
Menghadapi penurunan transaksi di pasar modal ini, otoritas bursa tidak bisa mengambil apa pun. "Kita lihat saja, karena ini akibat polemik politik," kata Direktur Pengawasan Perusahaan Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito. Namun, kisruh politik belakangan ini bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan penurunan transaksi harian.
Eddy mengatakan, tipisnya transaksi di pasar modal sepekan ini ada kemungkinan juga karena pengaruh suasana libur panjang menjelang akhir tahun. "Mungkin ada pengaruh holiday mood," katanya. Transaksi jual-beli saham pada Desember memang cenderung turun karena mendekati libur akhir tahun.
Kepala ekonom Bank Mandiri, Mirza Adityaswara, mengatakan, investor khawatir terhadap investasi mereka dengan polemik politik kasus Century. Apalagi jika Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang paling disorot, sampai mundur dari jabatannya. "Kalau itu terjadi, investor akan mengevaluasi keputusannya," kata Mirza.
Menurut Mirza, keputusan bisnis pelaku pasar selalu dilakukan dengan melihat siapa yang menjadi pimpinan. Boediono dan Sri Mulyani dianggap sebagai tim yang sukses menjalankan kebijakan pro pertumbuhan ekonomi. Kepercayaan ini bisa dilihat dari naiknya investasi asing dalam bentuk surat utang negara, yang menjadi kontributor anggaran belanja negara.
Imbas berlarutnya kasus ini juga terlihat pada nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan dua hari lalu. Nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah di posisi 9.473. Menurut analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, hal ini karena faktor dalam negeri. Sebab, beberapa mata uang emerging market Asia menguat terhadap dolar Amerika.
FAMEGA SYAVIRA