Dok Pribadi
Topik
Selembar Kain Pemberian Ibu
TEMPO Interaktif, Saban Desember, Emiria Krisnaraga Syarfuan sering terkenang akan masa silam. "Desember mengingatkan saya pada kenangan indah tentang ibu dan selembar kain," ujarnya. Dia adalah salah satu wanita Indonesia yang punya kepedulian terhadap kain-kain lokal atau kain Indonesia. Ade, sapaan akrabnya, berterus terang bahwa inspirasi mencintai, mengembangkan, dan melestarikan kain-kain lokal bermula dari satu peristiwa lampau.
Ade lahir dari keluarga yang sangat mencintai kain. Ibunya mewariskan kain-kain yang tersimpan rapi dalam lemari. Kala itu, pada 1978, sang ibu memberi selembar kain batik biru tua yang cantik bermotif lunglungan dan flora. Pemberian itu menandai dirinya akan belajar ke Tokyo, Jepang.
"Saya sangat terkesan. Kain batik biru itu saya buat menjadi rok dan blus yang sangat indah," tutur Ade saat ditemui dalam beberapa kesempatan dan wawancara via e-mail.
Kecintaan itu kian melekatkan hati saat menikah pada 1980 mendapat hadiah dari ibu mertua selembar kain tapis Lampung yang dipakainya di pesta pernikahan. Bagi Ade, selembar kain sang ibu sangat menyentuh. Merekatkan kasih sayang. Pemberian ini pun bermakna dalam dirinya lebih tertantang belajar memahami lebih dalam mengenal motif-motif kain. Ibunya menjelaskan, selembar kain adalah identitas sebuah bangsa. "Kalau kain Lampung maknanya menggugah saya untuk mencintai kain tradisional Indonesia yang lain. Saya pun bertekad mempelajari dan mengoleksinya."
Penyuka warna hitam dan putih ini menerangkan, sang ibu terbiasa memakai busana berpadu kain Indonesia. Sedangkan eyang putrinya selalu mengenakan baju kurung lengkap dengan kain panjang. Eyang kakungnya, yang berasal dari Bengkulu, kerap mengenakan pakaian adat Teluk Belanga lengkap dengan kain songketnya.
"Eyang putri, yang sehari-hari berkebaya, sejak dini mengenalkan budaya batik kepada para cucunya. Namun, kecintaan saya terhadap kain tradisional Indonesia, ya, saat mendapatkan kain tapis Lampung yang sangat indah yang yang membuat saya jatuh cinta hingga sekarang," Ade menjelaskan.
Seiring berjalannya waktu, helaian kain kian bermakna bagi dirinya dan menjadi tradisi luhur di keluarga besarnya. Tak terasa, kecintaan Ade semakin besar. Koleksinya bertambah, termasuk kain tapis kuno, yang memiliki kiasan tersendiri, biasanya mengandung sejarah serta makna simbolis adiluhung luar biasa. "Sejak itu saya mengoleksi kain dan aktif di lembaga atau asosiasi tentang kain hingga September 2005 saya bersama teman-teman terdorong membentuk Rumah Pesona Kain (RPK)," ucap Ade, yang berhasil mengumpulkan ratusan kain-kain kuno se-Indonesia.
Ketika nyebur dan "berburu" kain, Ade sering berlomba dengan kolektor asing yang sama-sama mengincar kain yang sama. Bila berhasil, ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Namun, bila kain itu lepas, apalagi ke tangan kolektor asing, ada rasa sedih menggumpal di benaknya.
"Saya peduli terhadap kain lokal sebagai upaya menjaga warisan budaya bangsa serta membantu mempopulerkan kepada kaum muda. Kini, lewat RPK, aktif melakukan pembinaan kepada para perajin kain di seluruh daerah supaya mereka tetap ada dan bersemangat," kata Ade menegaskan. Namun dia sedih karena para perajin banyak yang beralih profesi karena kesulitan menembus pasar.
Selain membina perajin daerah, perkumpulan RPK bekerja sama dengan perancang menyajikan kain-kain indah menjadi sesuatu yang menawan. "Kami aktif menggelar seminar, pelatihan, pembinaan perajin, melibatkan para perancang, menggelar peragaan busana, dan mengajak kaum muda," ujar Ade, yang bahagia kain Indonesia, khususnya Batik, beroleh pengakuan UNESCO pada Oktober lalu.
Perkumpulan RPK juga mendorong para perajin meningkatkan kualitas dan inovasi pada kain-kain Indonesia agar tetap memiliki karakter masing-masing daerah. Di sini Ade bersama sobatnya, seperti Ike Nirwan Bakri, Seminarti Gobel, Rahmi A.P. Tahir, Linda Agum Gumelar, Dawina Pontjo Sutowo, dan Sri Redjeki Sulistio, melalui berbagai kegiatan berusaha mewujudkan pelestarian dan peningkatan produktivitas dan apresiasi atas kain-kain Indonesia serta mendorong pengembangan kualitas perajin lewat berbagai program pembinaan terpadu dan berkesinambungan.
Penyuka makanan tradisional Indonesia ini mengatakan secara pribadi menggunakan kain Indonesia bisa dilakukan secara praktis dan tidak ribet, asalkan pintar menyiasati dan punya trik. Bagi kaum muda memang tidak bisa memaksakan berbusana tradisional lengkap karena biasanya mereka ingin yang praktis. Namun, Ade menyarankan bagi mereka, berkain dimulai dengan pemahaman bahwa kain Indonesia bisa dipakai dengan mudah dan praktis menjadi busana ready to wear yang modis, anggun, tanpa meninggalkan unsur budaya Indonesia.
Sementara itu, tentang Hari Ibu, baginya itu hari yang sangat istimewa dan bermakna. Apalagi dirinya termasuk salah satu cucu penggagas Kongres Wanita Pertama itu, yaitu Sujatin Kartowijono, Nyi KH Dewantoro, dan Soekonto, yang dalam kongres pertamanya memperjuangkan dan mempengaruhi cara pandang tentang emansipasi kaum perempuan.
"Sejak kecil eyang selalu menanamkan sikap menjadi perempuan berdaya, pandai, dan mandiri, yang mampu mengharumkan nama keluarga dan bangsa. Saya yakin perempuan tidak kalah dalam perannya sebagai pengurus rumah tangga serta kemampuan menjadi perempuan bekerja. Perempuan makhluk istimewa. Terima kasih, Ibu," ujar Ade memungkasi.
Emiria Krisnaraga Syarfuan
Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 17 November 1958
Status: Menikah dengan Krisnaraga Syarfuan, memiliki lima anak dan dua cucu
Pendidikan:
1975, Sekolah Menengah Atas Kristen I PSKD, Jakarta
1976-1978 & 1979-1983, S-1 Sastra Jepang Asia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta
1978-1979, Japanese Language Institute, International Education, Tokyo, Jepang
Organisasi:
1989-sekarang, Pendiri dan Wakil Ketua Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia (YAPNA)
2005-sekarang, Pendiri dan Sekretaris Perkumpulan Rumah Pesona Kain (RPK)
2005-sekarang, Pengurus, Wakil Ketua Persatuan Wanita Lampung (PERWALA)
2006-sekarang, Pendiri dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Bakrie (YYB)
2007-sekarang, Pengurus Bidang Dana Himpunan Watraprema