Korban Lumpur Lapindo Keluhkan Kualitas Rumah

TEMPO Interaktif, Sidoarjo - Korban lumpur Lapindo mengeluhkan buruknya kualitas bangunan perumahan akibat lantai, atap, dan dinding yang rusak sebelum ditempati.

Dinding rumah terlihat retak-retak, lantai bangunan juga terkelupas. Bahkan, air sumur yang disediakan pengembang perumahan juga tak layak dikonsumsi. "Rumah ini kami terima lima bulan lalu," kata Sudarto, korban lumpur Lapindo, Ahad (27/12).

Karena tak layak huni, sebagian warga menolak menempati rumah tersebut. Sementara dana untuk sewa rumah yang disediakan PT Minarak Lapindo Jaya juga telah habis. Adapun korban lumpur yang memiliki dana memperbaiki rumah secara mandiri.

Sebagian warga menempati gubuk-gubuk darurat di pinggir sungai sekitar perumahan tersebut. Mereka menuntut agar pengembang bertanggung jawab memperbaiki rumah yang layak sesuai janji sebelumnya.

Perumahan yang berada di Desa Renojoyo, Kecamatan Porong, ini dihuni 563 keluarga. Sebelumnya, lahan 6.000 meter persegi ini dibeli secara bersama-sama korban lumpur lain dari dana ganti rugi lahan tahap pertama seharga sekitar Rp 17 juta per kapling tanah. Selanjutnya, pembangunan perumahan dikerjakan oleh pengembang yang ditunjuk Real Estate Indonesia (REI) Sidoarjo. Setiap rumah dipatok harga Rp 55 juta yang dapat diangsur sesuai kesepakatan dengan perbankan.

Dari pantauan Tempo, konstruksi bangunan tak kokoh serta dikerjakan dengan asal-asalan. Bahkan, sejumlah fasilitas perumahan seperti masjid, sekolah, dan taman bermain juga belum terbangun.

Ketua Panitia Khusus Lumpur Lapindo Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Sulkan Wariyono, mengatakan segera meninjau kondisi perumahan korban lumpur.

Para pihak yang bertanggung jawab mengerjakan perumahan tersebut akan dipanggil untuk dimintai pertanggungjawaban. "Konstruksinya harus sesuai dengan perencanaan awal," katanya.

EKO WIDIANTO