foto: Febrin Hikmawan Hernandi
Topik
Berziarah ke Kota Tua Yerusalem
TEMPO Interaktif, Jakarta - Hari masih pagi, bersama adik sepupu, tante, dan nenek, kami meninggalkan Tel Aviv, Israel, untuk menyambangi beberapa kota dengan tujuan utama Yerusalem, Mei lalu. Mengingat nenek sudah 70 tahun, kami tidak menggunakan bus, melainkan mencarter mobil VW Caravelle, yang disopiri orang Palestina, yang bisa berbahasa Ibrani, Inggris, dan Arab. Seorang pemandu wisata, Abdul Kareem, yang juga berasal dari Palestina, menemani kami.Dari Tel Aviv, mobil meluncur ke selatan, menuju Jaffa, yang pernah menjadi kota pelabuhan utama sebelum dipindahkan ke Kaesarea. Satu jam kemudian, kami di tiba Kaesarea. Di pintu masuk kota ini, kami menemukan reruntuhan patung-patung tanpa kepala berbahan asli marmer. Menurut sejarah, patung penguasa di daerah ini bagian kepalanya dulu diganti-ganti, mengikuti bentuk wajah gubernur yang sedang berkuasa.
Melanjutkan perjalanan ke utara, kami pergi ke Haifa, sekitar 115 kilometer dari Tel Aviv. Di kota pelabuhan modern yang sekarang menjadi jalur laut utama perdagangan dari dan ke Israel itu, dari kejauhan kami melihat bangunan seperti masjid di puncak bukit. Ternyata bangunan dengan ribuan anak tangga di antara taman indah itu merupakan rumah ibadah jemaah Ahmadiyah.
Kami berkendara lagi mendaki Gunung Karmel. Di titik tertinggi, seluruh Kota Haifa tampak jelas. Sungguh panorama yang indah.
Di kota berikutnya, Nazareth, tempat Yesus dibesarkan setelah dilahirkan di Bethlehem, kami mengunjungi situs tempat Yesus melakukan mukjizat pertamanya, mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan kerabatnya. Fondasi bangunan aslinya masih ada, sedangkan atasnya sudah dibuat menjadi gereja dan biara di sekelilingnya.
Masih di Nazareth, tak lupa kami menyambangi Gunung Tabor. Menurut kepercayaan Nasrani, di gunung ini Yesus mengajak tiga muridnya menyepi dan menceritakan tentang Nabi Musa dan Nabi Elia.
Dari atas gunung ini pemandangannya sangat indah. Kita dapat melihat hamparan hijau daerah di bawahnya. Sepanjang jalan, tampak biarawati-biarawati ortodoks Rusia melakukan ritual dengan berjalan kaki ke biara dan gereja di puncak gunung. Malam itu kami menginap di hotel bintang empat di Nazareth, sebelum melanjutkan perjalanan ke Capernaum esok harinya. Di Capernaum, yang terletak di pinggir Danau Gallilea, kami sempat menyaksikan reruntuhan sisa-sisa dari kota yang dulu dibangun oleh penguasa-penguasa yang datang dan pergi dari masa yang berbeda-beda. Di tengah reruntuhan, terdapat bangunan terbuat dari batu yang lebih hitam dari bebatuan di sekelilingnya. Ternyata bangunan itu dulu tempat Yesus mengajar.
Hari itu kami menyempatkan mengunjungi situs di dekat Sungai Yordan, tempat Yesus dibaptis, yang merupakan perbatasan alam dengan Yordania. Sebagian dari sungai ini masuk wilayah Israel, sebagian lagi masuk teritori Yordania. Di sungai ini terdapat prasasti dari beberapa negara, termasuk Indonesia, yang dipajang di sepanjang temboknya.
Lagi-lagi mata kami dimanjakan oleh pemandangan taman bunga yang teramat indah. Di sungai ini kami menyempatkan mengambil airnya untuk dibawa ke Indonesia.
Sepanjang jalan yang berbatasan dengan langsung dengan Yordania dibatasi dengan kawat-kawat listrik bertegangan tinggi, menjorok beberapa meter keluar dari bahu jalan. Dan setiap kira-kira 2 kilometer ada pos penjagaan tentara Israel dengan senapan mesinnya mengarah ke Yordan.
* * *
Pada hari kelima di Israel, barulah kami menyambangi Yerusalem--yang di peta dunia termasuk wilayah Palestina. Jam menunjuk angka delapan malam ketika kami tiba di Yerusalem. Rasa penasaran tak terbendung untuk menyaksikan pemandangan kota lama. Setelah beberapa saat, akhirnya tampak juga kubah emas di kejauhan. Puas sekali rasanya setelah melihat kubah itu. Tapi kami harus bersabar. Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat.
Sepanjang perjalanan menuju hotel di distrik Yahudi Ortodoks, kami memperhatikan orang yang lalu-lalang di sepanjang trotoar kota. Semua orang berbaju sama, baik laki-laki maupun perempuan, atasan putih dan bawahan hitam. Yang pria bertopi besar dan jas hitam, perempuannya memakai rok panjang. Rambut jambang para pria dibiarkan panjang, ada yang dikepang, ada yang tidak.
Banyak sekali tentara Israel berpatroli di jalan-jalan, lengkap dengan senjata otomatis.
Orang-orang di sini terkesan lebih dingin bahkan cenderung sombong ketimbang penduduk yang sempat kami temui di Tel Aviv.
Pagi esok harinya, kami mengawali perjalanan ke Bukit Zaitun. Di bukit ini terdapat sebuah gua yang diyakini sebagai tempat Yesus beristirahat pada malam hari setelah mengajar di rumah ibadah pada siang hari. Di sekeliling tembok tempat ini terdapat Doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa, termasuk Jawa, Sunda, dan Toraja.
Dari bukit ini kami dapat melihat seluruh tembok kota tua Yerusalem. Di luar tembok, banyak gereja yang dibangun oleh peziarah Kristen dari seluruh penjuru dunia. Di sekeliling tembok juga terdapat banyak kuburan Islam, Kristen, dan Yahudi, yang menghadap ke arah kota tua. Menurut cerita, harga satu kuburan ada yang mencapai US$ 50 ribu (sekitar Rp 450 juta). Ada kepercayaan, pada hari penghakiman nanti, mereka yang dikuburkan di luar tembok itu yang pertama akan dibangkitkan untuk diadili sebelum yang dikuburkan di tempat lain.
Cerita unik lain mengenai kuburan Yahudi, peziarah biasanya menebarkan batu, bukan bunga, dengan alasan batu akan lebih awet daripada bunga.
Kemudian kami berjalan kaki menuruni lereng Bukit Zaitun ke Taman Getsemani, tempat Yesus Kristus berdoa untuk terakhir kalinya sebelum ditangkap tentara Romawi. Tampak relief posisi Yesus berdoa di salah satu batu yang diyakini asli dari zaman itu. Di tempat ini dibangun gereja yang megah. Sebagian kecil mozaik di lantai gereja ini masih asli berasal dari zaman Byzantium (sekitar abad ke-3-6 Masehi), yang berarti sudah lebih dari 2.000 tahun.
Lalu kami berjalan menanjak untuk mengawali perjalanan di kota lama dengan masuk melalui Lions Gate, salah satu dari delapan gerbang masuk kota tua Yerusalem.
Kota tua Yerusalem terbagi menjadi empat distrik: Yahudi, Kristen, muslim, dan Armenia. Masyarakatnya sangat majemuk. Pedagang-pedagang dan orang-orang yang kami temui di sepanjang perjalanan ada yang berparas Arab. Wanitanya ada yang berjilbab, ada pula yang berkalung salib. Bahkan banyak yang menggunakan tutup kepala khas Yahudi.
Pemberhentian kami yang pertama setelah masuk ke kota tua adalah Kolam Bethesda. Sebagaimana tertulis di Kitab Injil, kolam ini dulu merupakan tempat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Tapi di lokasi ini kami tidak menemukan satu kolam pun. Sejauh mata memandang hanyalah reruntuhan bangunan yang bertumpuk-tumpuk. Rupanya, seiring dengan pergantian kekuasaan, di atas kolam yang awalnya dibangun gereja sudah dihancurkan berulang-ulang oleh beberapa penguasa berikutnya secara bergantian. Akhirnya yang tersisa hanyalah puing-puing.
Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi yang diyakini sebagai tempat Yesus disiksa. Pada zaman Ratu Helena, di tempat itu dibangun gereja. Seiring dengan sejarah pergantian penguasa kota tua Yerusalem, gereja itu sempat dihancurkan dan dibangun kembali. Di gereja ini terdapat batu yang diyakini sebagai tempat pembaringan Yesus setelah mengembuskan napas terakhir di kayu salib.
Yang unik, sejak zaman Sultan Saladin hingga sekarang, juru kunci pintu utama gereja ini dari keluarga muslim. Ini untuk menghindari perselisihan antara penganut Katolik Roma, Armenia, dan Ortodoks, yang masing-masing ingin menjadi juru kunci. Juru kunci membuka pintu gereja pada pukul 06.00 dan menutupnya pada pukul 18.00.
Melanjutkan perjalanan, kami meninggalkan kota tua, dengan tujuan selanjutnya tempat replika makam Yesus. Sesuai dengan yang tertulis di Injil, setelah Yesus meninggal, Yusuf--orang kaya dari Arimatea yang merupakan murid rahasia Yesus--meminta mayat Yesus dibawa ke taman miliknya. Di taman ini kita dapat melihat dengan jelas bentuk makam Yesus seperti yang diceritakan di Alkitab.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00. Siang itu, setelah menikmati makan di restoran Cina, di bagian lain kota modern Yerusalem, kami berkendara lagi ke selatan. Kami menuju Bethlehem, tempat Yesus dilahirkan. Hingga sekarang Bethlehem berada di bawah teritori Palestina, sehingga kami melewati perbatasan keluar Yerusalem yang dijaga sangat ketat tentara Israel dengan persenjataan lengkap.
Di kota ini kami mengunjungi Gereja Bethlehem, yang letaknya bersebelahan dengan masjid di kompleks yang sama. Di bawah gereja inilah diyakini terdapat gua tempat Yesus dilahirkan.
FEBRIN HIKMAWAN HERNANDI, PENIKMAT PERJALANAN, TINGGAL DI JAKARTA