Warga Garut Rawan Terserang Berbagai Virus Penyakit

TEMPO Interaktif, Garut - Warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, rawan terserang berbagai virus penyakit. Kondisi tersebut berdasarkan target program imunisasi yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat tak mencapi target setiap tahunnya.

“Setiap tahun target imunisasi kami belum pernah mencapai 100 persen,” ungkap Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Dede Rochmansyah, kepada Tempo, Senin (28/12).

Menurut dia, angka partisipasi masyarakat terhadap pos pelayanan terpadu masih rendah. Padahal, program imunisasi yang dilakukan setiap bulan itu tidak dipungut biaya karena biaya pembelian vaksi dan tenaga kesehatan telah ditanggung pemerintah.

Pada 2009 ini, target sasaran bayi mencapai 56.554 orang. Namun yang mendapatkan imunisasi belum seluruhnya. Untuk imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG) hanya mencapai 68,4 persen, Difteri Pertusis Tetanus (DPT) sekitar 70,3 persen, Campak sebesar 65,7 persen, dan imunisasi polio sebanyak 66,2 persen.

Padahal pihaknya telah menyediakan sekitar 16 ribu vaksin BCG, 27 ribu vaksin DPT, 37 ribu vaksin polio, 42 ribu vaksin HB, dan 17 ribu vaksin campak. Namun banyak vaksin yang terbuang akibat tidak digunakan karena daya tahan vaksin imunisasi itu hanya bertahan selama tiga jam. “Peluang menurunnya kekebalan tubuh bayi di Garut ini cukup besar,” ujarnya.

Penyakit yang berpeluang menyerang warga Garut di antaranya tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis, campak, dan polio. Hal itu diakibatkan kurangnya antibodi.

Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut, Rajab Prilyadi Syam, menilai tidak tercapainya target program imunisasi di daerahnya akibat kurangnya sosialisasi kesehatan dari intansi terkait kepada masyarakat.

Padahal, pembiayaan kegiatan sosialisasi tersebut telah disiapkan dalam anggaran daerah. “Kita menanyakan sejauh mana sosialisasi imunisasi dilaksanakan, ” ujarnya.

Pihaknya meminta agar Dinas Kesehatan setempat berkoordinasi dengan jajaran pemerintahan hingga ke tingkat bawah untuk melakukan sosialisasi imunisasi. Hal itu supaya tidak terjadi kebingungan di masyarakat. “Kalau masyarakat tahu maksud dan tujuannya pasti akan datang ke posyandu,” ujarnya.

 

SIGIT ZULMUNIR