Pasar Murah Takkan Efektif Redam Gejolak Harga Gula
TEMPO Interaktif, Jakarta - Rencana pemerintah menggelar pasar murah gula dinilai tak akan efektif meredam gejolak harga gula di pasaran. Alih-alih menyambut baik, Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (Apgeti) menilai pemerintah tak akan menemukan solusi untuk mengatasi melambungnya harga gula akibat keterbatasan pasokan.
“Ini adalah pelajaran buat pemerintah yang selama ini tak mempunyai perencanaan dan strategi pergulaan,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu (Apegti), Natsir Mansyur, ketika dihubungi lewat sambungan telepon, Senin (28/12).
Seperti diberitakan, pemerintah akan menggelar pasar murah gula dalam dua pekan mendatang untuk mengatasi melonjaknya harga gula di pasaran. Rencananya, harga gula yang dijual pada pasar murah ini lebih murah sekitar Rp 1.500-2.000 per kilogram dari harga pasar setempat yang akan ditutup dari subsidi pemerintah.
Natsir meragukan strategi itu lantaran operasi pasar yang dilakukan pemerintah selama ini hanya dilakukan dalam satu hingga dua hari saja. Pasalnya, stok komoditas yang dimiliki pemerintah saat ini juga sangat terbatas. “Itu hanya simbolik saja,” ujarnya.
Dia menilai pemerintah telah gagal merancang kebijakan pergulaan nasional sehingga pasokan gula saat ini sangat terbatas. Pemerintah juga tak bergerak cepat ketika pasar gula internasional mulai bergejolak beberapa bulan lalu.
Pasalnya negara lain sudah melakukan pembelian untuk transaksi masa mendatang (forward) sejak September lalu, sedangkan pemerintah baru akan menggelar tender internasional pada awal Januari 2010. “Departemen Perdagangan dan Departemen Pertanian harus bertanggung jawab atas karut-marut pergulaan saat ini. Mereka (Menteri dan Wakil Menteri) mundur saja,” ucapnya.
Natsir mencontohkan, India sudah membeli gula di pasar internasional sejak September lalu sebanyak 3,5 juta ton untuk pasokan awal tahun depan ketika pemerintah India menyadari potensi defisit pasokan gula nasional mereka tahun depan mencapai 6 juta ton. Pada bulan yang sama hal serupa dilakukan Malaysia yang membeli 1 juta ton.
Menurut dia, keterlambatan pemerintah dalam merespons berbagai potensi pergulaan pada masa mendatang itu menyebabkan Indonesia harus membayar lebih mahal untuk memenuhi pasokan dari pasar internasional. Pada September 2008, India hanya membayar pembelian gula di pasar internasional sebesar US$ 530 per ton dan Malaysia sebesar US$ 560 per ton.
“Sedangkan pemerintah sekarang dihadapkan pada harga US$ 720 per ton,” kata Natsir. Bahkan, kata dia, harga itu bisa saja terus meningkat karena sepekan lalu harga gula di pasar internasional hanya sekitar 680 dolar per ton.
AGOENG WIJAYA