Ganti Rugi Belum Dibayar, Korban Lumpur Lapindo Unjuk Rasa

TEMPO Interaktif, Sidoarjo - Puluhan korban lumpur Lapindo asal Desa Kadung Bendo Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo berunjuk rasa di tanah dekat tanggul penahan lumpur, Selasa (29/12). Mereka memprotes Lapindo Brantas, Inc yang tak membayar jual beli lahan yang kini digunakan menampung lumpur.

"Hampir empat tahun lahan kami terendam lumpur, tapi belum ada ganti rugi," kata Kepala Desa Kedung Bendo, Hasan yang turut bergabung dalam aksi unjukrasa ini.

Mereka mengancam akan menghentikan truk pengangkut material pasir batu untuk menimbun tanggul penahan lumpur jika, lahan milik warga tak segera dibayar sesuai dengan kesepakatan dengan tim verifikasi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Hasan menyebutkan, dari total 1.600 kepala keluarga, 174 keluarga diantaranya belum menerima pembayaran ganti rugi. Hingga kini, katanya, mereka tak memiliki rumah tinggal dan memilih mengungsi di masjid setempat.

Luas lahan milik warga, yang belum terbayar seluas 33 hektare. Selain itu, Hasan juga mengeluhkan lahan seluas 20 ribu meter persegi milik PT Teguh Rakhmat Jaya, perusahaan properti miliknya yang belum mendapat ganti rugi meski, lahan senilai Rp 25 miliar yang dimilikinya telah tenggelam menjadi kolam penampung lumpur. "Lapindo telah merampas hak warga. Saya memiliki bukti kepemilikan lahan," katanya sambil mengacungkan sertifikat tanah yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional.

Aksi diakhiri dengan pembacaan shalawat nabi serta orasi menuntut agar Lapindo segera membayar tuntas tunggakan jual beli lahan. Sambil sesenggukan menahan tangis warga setempat membentangkan spaduk yang menuntut agar perusahaan milik Bakrie Group ini segera menyelesaikan kewajibannya.

Roikan, Warga Kedung Bendo korban lumpur Lapindo juga mengeluhkan tersendatnya pembayaran angsuran ganti rugi yang dijanjikan PT Minarak Lapindo Jaya. Lantaran, hingga kini dirinya belum menerima angsuran ganti rugi sebanyak Rp 15 juta per bulan seperti yang dijanjikan. "Katanya dibayar setiap tanggal 3, tapi hingga kini kami belum menerima," katanya.

 

EKO WIDIANTO