www.sxc.hu
Topik
Membuat Skoliosis Lebih Simetris
TEMPO Interaktif, Punggung Michele tampak tidak simetris. Pinggang kiri dan kanannya tidak sama alias tinggi sebelah. Kondisi ini diketahui ibunya, Tjahyadi, saat gadis 11 tahun itu mengenakan baju renang. Pada April 2008, dokter mendiagnosis Michele menderita skoliosis, yaitu gejala kelainan bentuk tulang belakang.
Saat itu didapati bagian belikat tulang belakangnya menonjol, dan kemiringannya mencapai 40 derajat.
Dari beberapa literatur, kurva kemiringan melebihi 40 derajat termasuk kategori berat.
Michele bisa terancam mengalami gangguan saraf, irama jantung, hingga kelumpuhan.
Ancaman itu akibat dari jarak antara tulang dada dan tulang belakang yang makin mendekat, sehingga ruang paru-paru di antara dua tulang vital itu menjadi menyempit.
Dengan kurva sedemikian miring, tindakan yang harus diambil adalah melakukan operasi. Demikian menurut konsultan ortopedi tulang belakang Rumah Sakit Internasional Bintaro, Dr Luthfi Gatam, SpOT, Spine Surgeon (K). "Jika kurva kurang dari 20 derajat, tidak perlu dioperasi," ujar Luthfi beberapa bulan lalu di RS Internasional Bintaro, Tangerang.
Waktu itu, dokter yang menangani Michele memang tidak mengambil tindakan operasi. Tapi dia mewajibkan Michele memakai baju penopang berupa cetakan berbentuk tubuh. Baju itu terbuat dari plastik, dan dilengkapi dengan tali serta besi. Tujuannya adalah agar kemiringan tubuh si pasien tidak bertambah. Konon, baju ini beratnya mencapai 6 kilogram dan harganya mencapai belasan juta rupiah.
Baju itu tentu membuat Michele tidak nyaman. Dia harus memakai baju penopang yang cukup berat itu saban hari. Apalagi baju khusus itu juga harus dipakai pada waktu tidur. Namun demi kesembuhan, Michele terus bertahan memakai baju penopang tubuh itu.
Dalam perjalanannya, selain diobati secara medis, Michele ditangani oleh seorang yi seng. Yi seng adalah sebutan untuk ahli pengobatan tradisional Cina. Menurut Nelly Suhirman, pemilik Traditional Medicine & Health Centre, Tung Mei Massage, di Jakarta, yi seng ini mempelajari secara akademik setingkat universitas khusus tulang dan saraf di negeri Cina daratan.
Tung Mei Massage sendiri adalah terapi jasmani perpaduan antara gerakan pijat spesifik anmo massage dan sejenis teknik gerakan chiropatic, seperti menekuk, menarik, serta meregangkan tubuh. Terapi ini tetap memakai panduan medis, seperti hasil roentgen dari penderita skoliosis. "Banyak pasien di sini yang mengkombinasikannya," ujar Nelly saat ditemui di Jakarta pekan lalu.
Selanjutnya, pasien diterapi secara manual menggunakan jari atau lengan di titik-titik sumber penyakit selama 50 menit. Yi seng akan mencari titik-titik sumber penyakit dan menekan titik-titik itu. Selama proses pemijatan, pasien memakai baju dan celana longgar.
Menurut Nelly, pasien disarankan menjalani terapi itu hingga sepuluh kali dengan frekuensi dua kali per pekan. Uniknya, setelah menjalani terapi, pasien tidak dibekali obat-obatan. Pasien juga tidak diminta berpantang makanan apa pun. "Sekali terapi, pasien dikenai biaya Rp 300 ribu," Nelly memberi tahu.
Dalam kasus Michele, bagian tulang belikat yang menonjol didapati sudah semakin rendah--saat memasuki terapi yang ketiga. Malah baju penopang dari besi itu sudah sedikit longgar. Di klinik ini, menurut Nelly, kebanyakan pasiennya adalah remaja perempuan. Pada kebanyakan kasus, penyebab dari skoliosis tidak diketahui atau disebut juga idiopathic.
Selain mengatasi skoliosis, Nelly menambahkan, terapi ini bisa mengatasi keluhan nyeri pinggang akibat terjepitnya urat-urat saraf yang melalui tulang belakang--atau dalam istilah medis disebut juga herniated nucleus pulposus.
Agar Tak Kembali Bengkok
1. Bila bangun dari posisi berbaring, dianjurkan memiringkan tubuh terlebih dulu, barulah bangkit perlahan.
2. Tidak boleh membungkukkan badan.
3. Jika membungkukkan badan, posisi tubuh harus jongkok--bila ingin mengambil sesuatu.
4. Tidak boleh mengangkat barang atau beban berat selama menjalani terapi, terutama bila masih ada rasa sakit.
5. Saat kondisi sudah membaik, bukan berarti bisa beraktivitas sembarangan.
6. Herniated nucleus pulposus dan skoliosis tidak bisa sembuh total serta ada risiko terulang lagi bila ada faktor pemicunya, seperti jatuh, mengangkat beban terlalu berat, atau salah melakukan gerakan tubuh.
HERU TRIYONO