foto

TEMPO/Tommy Satria



Kala Hemoglobin Lebih Miskin

TEMPO Interaktif, Rasa begah di perut dialami Thariq saat berusia lima tahun. Rasa begah itu bercampur dengan rasa sakit, dan lama-lama perutnya membuncit. Selang dua pekan, Thariq dites darah. Oleh dokter, dia didiagnosis menderita talasemia--suatu penyakit kelainan darah yang disebabkan oleh kurangnya produksi hemoglobin atau sel darah merah. Thariq pun rutin menambah darah dengan melakukan transfusi setiap dua bulan sekali.

Kini Thariq Hidayat Kanz--nama lengkapnya--berusia 17 tahun. Dia sudah duduk di bangku kelas XII sekolah menengah kejuruan di Ciledug, Tangerang. Dia masih rutin melakukan transfusi darah dengan didampingi obat kelasi. "Saya tetap bisa beraktivitas layaknya anak normal," kata anak ketiga itu saat peluncuran program "The Thalassaemia Ambassador" di Jakarta beberapa waktu lalu.

Hidup penderita talasemia memang diwarnai transfusi darah, sekaligus mengeluarkan zat besi dari tubuh. Sebab, dalam setiap kantong darah, ada 200-250 miligram zat besi yang masuk ke tubuh pasien. Itu membuat pasien kerap mengalami iron overload atau kelebihan zat besi. Gejalanya adalah badan jadi lemah, timbangan merosot, serta sendi tulang dan otot terasa sakit.
Nah, obat kelasi itu berguna untuk mengambil dan mengeluarkan zat besi dari dalam darah dan organ vital, seperti jantung, hati, serta kelenjar. Obat ini biasanya diberikan setelah pasien mendapatkan transfusi darah sebanyak kurang-lebih 20 unit.

Bertolak dari kondisi itu, pelaksana harian Ketua Pusat Talasemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr dr Pustika Amalia Wahidiyat, SpA(K), menyarankan sejumlah hal yang mesti diperhatikan dalam gaya hidup penderita talasemia.

Pertama, penderita harus mengurangi makanan zat besi tinggi, seperti daging merah dan hati. Kemudian perbanyak konsumsi minuman berkalsium tinggi, seperti susu dan produk turunannya. Kalsium, menurut dia, berguna untuk mengatasi kekeroposan tulang yang biasa dialami penderita talasemia.
Secara medis, dijelaskan oleh Pustika, darah itu dibuat di dalam tulang. Tubuh yang miskin darah (merah) akan mengkompensasi darah itu dari tulang, sehingga tulang bekerja keras dan menjadi tipis. "Penderita talasemia yang mengalami patah tulang akan sulit pulih," ujar Pustika.

Selain itu, dalam sejumlah literatur, penderita talasemia tidak dianjurkan makan makanan yang diasinkan serta makanan yang diasamkan dan produk fermentasi yang bisa menambah tingkat penyerapan zat besi dalam tubuh. Karena itu, menurut Pustika, pilihlah menu yang miskin zat besi, seperti daging putih dan kecap.

Jangan lupa mengecek produk makanan kaleng atau kemasan. "Lihat apakah ada penambahan kandungan zat besi atau tidak," tuturnya.
Selain itu, penderita talasemia tidak bisa berolahraga keras. Mereka disarankan melakukan olahraga yang menghindari kontak fisik. Sebaiknya pilih joging atau berenang.

Menurut Prof Dr dr Iskandar Wahidiyat, SpA(K), dalam kesempatan yang sama, 3-10 persen dari masyarakat Indonesia adalah pembawa sifat talasemia. Penyakit ini adalah kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua ke anaknya. Sama halnya pada kasus Thariq, yang diturunkan dari ibunya, Dahliah. "Saya tidak menyadari bahwa suami saya menderita talasemia minor (pembawa sifat)," Dahliah menjelaskan.

Di Pusat Thalassaemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, sampai Agustus 2009 telah terdata 1.500 pasien. Tiap tahunnya ada 80-100 pasien baru. Rentang usia pasiennya mulai di bawah satu tahun hingga yang paling tua, 41 tahun. Jumlah total pengidap talasemia di Indonesia sendiri mencapai 5.000-an orang. "Itu yang terdeteksi," tutur Pustika. 


Fakta Talasemia

1. Talasemia merupakan penyakit genetik terbanyak di dunia, termasuk di Indonesia.
2. Sampai saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan seseorang dari penyakit itu.
3. Pengobatan satu-satunya adalah dengan melakukan transfusi darah rutin seumur hidup, rata-rata sebulan sekali.
4. Transfusi ini menimbulkan efek kelebihan besi di semua organ, terutama di hati dan jantung.
5. Biaya penanganannya sangat mahal, mencapai Rp 300 juta per pasien per tahun.
6. Selain masalah medis, faktor psikososial menjadi masalah besar.
7. Penyakit ini dapat dicegah dengan melakukan screening talasemia pranikah.

Sumber: Dr dr Pustika Amalia Wahidiyat, SpA(K) l HERU TRIYONO