Topik


Membaca tanpa Aksara

TEMPO Interaktif, Fauzan Siddiqi, pemilik Personal Management, manajer artis yang membawahkan VJ Mike, Angi, dan Sausan, mengenal grafologi lima tahun lalu. Itu ketika Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, mengadakan acara bagaimana membaca tanda tangan.

"Karena tertarik, akhirnya saya ikut belajar juga. Tapi otodidak saja," kata sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Kini, setelah menguasai grafologi tanda tangan, "Saya lagi coba-coba belajar tulisan, tapi belajar sendiri juga."

Fauzan mempelajari hal ini lebih karena ingin mempelajari kepribadian orang. "Bukan untuk meramal masa depan atau hoki."

Yang jelas, dari mempelajari tanda tangan ini, ia telah tiga kali mengganti tanda tangan. "Ingin berubah, karena yang lama gampang ditiru, yang baru juga lebih simpel tapi lebih unik. Bukan demi memperbaiki hoki atau apa."

Fauzan mengakui membaca tanda tangan atau tulisan akurasinya memang tidak 100 persen. Tapi ini jadi cara Fauzan sebagai jembatan untuk bergaul. "Lumayan untuk men-'treat' teman kalau lagi kumpul. Atau kala bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal sebagai 'ice breaking'," katanya.

Keterampilan ini akhirnya juga dipergunakan Fauzan untuk meneliti para artis yang ingin bergabung di manajemennya. "Misalnya kita melihat si artis ini cenderung yang ekstrover atau introver."

Ada lagi Dani, wartawan di salah satu koran nasional yang rajin membawa kartu tarot saat berkumpul dengan teman-temannya. Kartu tarot Dani terbukti bisa menyemarakkan suasana di saat kumpul-kumpul itu. "Tujuannya memang untuk lucu-lucuan," kata Dani, meski ia tak main-main saat mempelajari tarot ini.

Jika Fauzan dan Dani, yang tergolong profesional, menggunakan kemampuan mereka sekadar main-main, lain lagi dengan Jimmy, 27 tahun, yang juga punya kemampuan membaca kartu tarot dan kopi. Pria berkulit putih yang selalu berpenampilan rapi dan wangi ini malah menjadikan kemampuannya sebagai profesi setelah jam kantor.

Dalam keseharian, ia menekuni bisnis, bertarot, dan meramal kopi saat senggang setelah jam kantor, Senin hingga Jumat, mulai pukul tujuh sampai 12 malam, di kafe dan restoran di Jakarta Selatan dan Pusat.

Perangkat yang dibawa Jimmy adalah sebuah komputer jinjing kecil, serta kartu tarot berukuran mini, midi, dan besar dilengkapi secangkir kopi serta sebuah piring besar untuk mengaitkan pembacaan tarot. "Tamu saya datang dari mulut ke mulut. Sebagian besar pegawai kantoran, pekerja di bidang hiburan, pengacara, perancang, dan lainnya," kata Jimmy ketika ditemui di sebuah kafe di Kebayoran Baru.

Layaknya pengunjung kafe, semua tamu Jimmy tertib antre menunggu giliran sambil bersantai menikmati suasana kafe. Dia melayani konsultasi setiap orang atau kelompok, satu hingga dua jam. Tarifnya Rp 100-500 ribu per jam.

Seperti Jimmy, Erwin Yap, yang mampu membaca garis wajah, melakukan kegiatan serupa. "Saya hanya membaca garis wajah, seperti bentuk panca indra mata, hidung, telinga, mulut, dan bagian tubuh lainnya," kata Erwin.

Awalnya Erwin adalah pengajar dan konsultan kesehatan berdasarkan seni membaca wajah di beberapa klinik kesehatan. Seiring dengan waktu, kini semakin banyak pasien yang mencarinya, hingga Erwin pun melayani permintaan tamu yang datang berkelompok dan menyewa sebuah ruangan di restoran mewah atau kamar di hotel berbintang.

Bila Sabtu datang, jadwalnya selalu penuh. Bisa tiga kelompok antre, mulai jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam. Satu kelompok terdiri atas lima sampai sepuluh orang dengan pembahasan dua hingga empat jam, berikut istirahat makan siang atau makan malam.

"Kebisaan saya tak mesti tahun baru, setiap saat mereka boleh datang, asalkan sebelumnya membuat janji," ujar Erwin, yang memiliki tarif konsultasi di atas Rp 200 ribu sampai jutaan rupiah. HADRIANI P | UTAMI WIDOWATI