Jusuf Kalla Mengenang Bisnis Keluarga

TEMPO Interaktif, Makassar -Mantan wakil presiden Jusuf Kalla bercerita soal sepak terjang bisnis keluarga Kalla sejak 1953. Waktu itu, keluarganya dibawa ayahnya pindah dari Bone ke Makassar. Kantor pertama mereka di Jalan Nusantara, di depan Pelabuhan Makassar. Lalu, kantor kedua dibangun di Jalan HOS Cokroaminoto.

Di kantor kedua inilah ruang pamer Toyota dibangun. Seiring waktu, bisnis yang dirintis Hadji Kalla semakin berkembang sampai memiliki beberapa kantor dan gedung. Gedung terakhir ini mengikuti pesan dari ayahnya yang mengatakan bahwa dalam berbisnis, gedung kantor mewah dibangun belakangan, yang terpenting adalah karyawan, peralatan, pabrik, serta lahan.

“Terakhir barulah membangun gedung yang mewah,” tuturnya dalam sambutan acara peresmian Wisma Kalla yang berlantai 15 siang ini.

Wisma Kalla ini, kata dia, dirancang oleh arsitek dari Institut Teknologi Bandung. Dibangun dengan tiga unsur, yaitu ombak, air, dan angin. Di atas gedung ada papan selancar yang menjadi simbol semakin ada ombak semakin bagus. Sebagai motivasi untuk terus berkembang.

Gedung ini dibiayai oleh Bank Bukopin dengan biaya sekitar Rp 120 miliar. Gedung ini juga merupakan gedung hijau. Konsepnya langsing, tipis, menghadap ke timur dan barat, serta teknologi kaca yang dapat mengurangi emisi karbon dioksida.

Jusuf Kalla mengatakan pula sudah 10 tahun meninggalkan bisnisnya di Makassar. Selama 10 tahun belakangan hanya tiga kali ia berkunjung ke kantornya. Tapi, setelah kembali ia kaget. “Setelah saya tinggalkan justru semakin berkembang,” ucapnya.

Dia menambahkan, perkembangan bisnis Hadji Kalla dijalankan oleh tiga generasi selama 60 tahun. Saat ini generasi ketiga yang jalankan, yaitu anak-anaknya dan adik bungsunya Fatimah Kalla. Dibangunnya Wisma Kalla, kata dia, untuk menyatukan kantor perusahaan yang selama ini masih berserak.

Kalla sempat bercerita soal kisah ayahnya di awal kiprahnya di bisnis sekitar tahun 1964. Ayahnya justru lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat dalam berbisnis. Seperti di masjid. “Setengah jam di kantor, lima jam di masjid.”  Gaya itulah yang diikuti Jusuf Kalla saat pertama diserahkan tugas mengelola bisnis Hadji Kalla.

Dia menjelaskan, apa yang dilakukan ayahnya itu banyak bermanfaat bagi dirinya untuk dijadikan pelajaran. Dia menerapkan kebiasaan ayahnya itu, saat baru selesai di bangku kuliah, langsung beraktifitas di bisnis. Saat berbisnis Jusuf Kalla justru lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat selaku ketua Kadin.

“Sehingga waktu untuk mengurus bisnis di kantor semakin sedikit. Hal itu sangat bermanfaat, karena dengan begitu perekonomian masyarakat makin tumbuh,” tuturnya. Peresmian ditandai dengan pembunyian sirine oleh Jusuf Kalla didampingi istrinya Mufida Kalla serta Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

INDRA  O Y