foto

TEMPO/Melly Anne



Herman Sarens Itu Nama Sangat Top Pada 1980-an  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagi warga Indonesia yang berusia di bawah 30 tahun mungkin nama Herman Sarens, pensiunan jenderal yang berurusan dengan aparat, terdengar asing. Bukan nama yang sering terdengar.

Tapi orang Indonesia yang lahir pada 1970-an atau sebelumnya, nama ini sangat akrab melekat. Herman Sarens sepanjang 1980-an menjadi nama yang hampir setiap hari ada di koran-koran.

Ia terkenal bukan karena karir militernya meski pensiun dengan pangkat brigadir Jenderal. Ia terkenal karena urusan tinju. Sasananya, Satria Kinayungan, cukup top. Ia juga menjadi promotor yang berulang-ulang berusaha mempertandingkan petinju Indonesia untuk mendapatkan gelar juara dunia.

Ia juga terkenal karena trik-trik yang dilakukan agar pertandingannya dibicarakan banyak orang. Trik ini membuat namaya bertambah top. Saat membawa dua jagoan Indonesia, Suwarno dan Kai Siong, merebut gelar tinju WBF Intercontinental misalnya.

Suwarno, juara OPBF, memperebutkan gelar WBC Intercontinental--semacam "divisi dua" WBC--melawan Jorge Amparo dari Republik Dominika pada 1987. Suwarno saat itu gagal. Malam sebelumnya, ia mempertandingkan petinju Indonesia lain, Kai Siong, melawan Orlando Orozco. Kai Siong juga gagal mendapatkan gelar WBC "divisi dua" itu.

Pertandingan itu digelar di Stadion Utama Senayan yang berkapasitas lebih dari 100 ribu penonton. Sayangnya, penggemar tinju yang datang hanya sekitar 6.000 orang saja.

Padahal Herman Sarens sudah membuat trik. Sebelumnya ia mengatakan bahwa bahwa baik Amparo maupun Orlando dibayar US$56 ribu, ternyata belakangan terungkap bahwa kedua petinju itu hanya dibayar US$4 ribu. Ini taktik penonton datang. "Itu 'kan cara untuk membuat ramai pertandingan," kata Herman sesudahnya.

Tidak hanya itu, setelah Kai Siong diumumkan kalah, Herman Sarens masuk ke dalam ring dan menuduh kubu Orozco memakai obat perangsang. Ternyata tes doping negatif.

Tak pelak hal hal-hal ini membuat nama Herman Sarens menjadi top. Namanya sendiri melejit setelah berhasil menyelamatkan pertandingan dunia pertama di Indonesia, antara petinju berkampung Timor Timur, Thomas Americo, melawan juara WBC, Saoul Mamby, dari Amerika Serikat.

Pertandingan pada 1981 itu, awalnya, dipromotori oleh Boy Bolang. Tapi menjelang pertandingan, Boy menyerah karena kehabisan dana dan Herman Sarens mengambil alih.

Meski Thomas kalah, tapi dalam sekejab, nama Herman Sarens menjadi top di Indonesia. Apalagi, pada 1980 itu tinju termasuk olah raga yang digemari warga Indonesia dan berita tentang dunia tinju mungkin, dalam era sekarang, bisa dibandingkan dengan berita sepakbola Liga Inggris atau Italia.

NURKHOIRI/BERBAGAI SUMBER