Tumpahan Minyak Menjadi Rezeki Bagi Warga Pantai Ombak Mati

TEMPO Interaktif, Jepara - Rezeki memang tidak lari ke mana. Para nelayan di Kecamatan Bondo, Kabupaten Jepara, yang sudah dua pekan terakhir ini tidak melaut, tidak diduga dapat kiriman rezeki minyak goreng.

Luapan kegembiraan terpancar bagi mereka yang ketiban rezeki, meski minyak itu harus dikais dari tumpahan kapal tongkang pengangkut minyak goreng yang terdampar di pantai Ombak Mati. “Saya ini tidak mencuri, dan minyak itu tumpah dan terapung di pinggir pantai,” ucap Santoso, warga Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara (21/1).

Ada ratusan warga yang menjejali pantai Ombak Mati, dan berebut untuk mengais sisa tumpahan minyak. Mereka terdiri mulai dari anak- anak hingga orangtua, yang sebagian besar berasal dari tiga Dukuh: Margokerto, Ombak Mati dan Ngelak Mulyo.

Berbagai peralatan seperti jerigen, ember, gallon dan alat gayung mereka bawa. Minyak itu terapung di pinggir pantai hingga membasahi ke tanah lambiran. Sedikit demi sedikit, minyak diambil dengan gayung atau gelas kemudian dimasukkan ke wadah. Begitu wadah sudah penuh, segera mereka pulang ke rumah. Minyak itu kemudian dituang di ember yang sudah disiapkan, lalu mereka balik lagi ke lokasi tumpahan minyak.

Satu orang terlihat dapat membawa hingga enam jerigen ukuran 35 liter. Seperti, Kasti (50) dan Rusmi (52), warga Desa Bondo, berhasil masing- masing mengumpulkan dua jerigen isi 35 liter. Suradi, warga Margokerto, yang membawa dua jerigen memperoleh 65 liter. “Ini saya kumpulkan dua jam,” ucap Suradi. Sedangkan Miasih yang membawa gallon dan jerigen berhasil mendapatkan 60 liter.

Minyak yang dikais warga itu tidak bisa langsung dipakai untuk menggoreng karena tercampur tanah dan air laut. “Ini perlu diendapkan dulu, dan saring dulu,” ucap Miasih, warga Bondo. Tidak semua minyak itu digunakan sendiri. “Saya akan cari pedagang yang bersedia membelinya,” ucap Miasih. Harga minyak goreng di tingkat eceran berkisar Rp 8.500 per kilogram. “Saya kira minyak ini akan laku dijual Rp 5.000 per kilonya,” ucap Santoso. “Hasilnya bisa untuk kebutuhan sehari- hari, sebab sudah beberapa pekan saya tidak miang (nangkap ikan),” ucap Suntoro, nelayan Bondo.

Minyak itu berasal dari Kapal Tongkang Prince Copricom I dengan 83 GT, lebar lambung delapan meter dan panjang 80 meter. Kapal tongkang ini berangkat dari pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, Jum’at (8/1) menuju ke pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan dijadwalkan akan tiba Rabu (13/1) dengan muatan 5.000 ton minyak goring.

Karena ombak laut cukup besar, akhirnya kapal terdampar di perairan Pantai Ombak Mati, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara, Kamis (14/1). Untuk ke 17 awak kapal yang dinahkodai Rusdi, dapat diselamatkan oleh tim SAR Jepara, dengan dibantu para nelayan. Karena bagian lambungnya terkena karang, baru diketahui bocor, Rabu (20/1). Diperkirakan minyak yang tumpah ke pinggir pantai sekitar 2.000 ton. Kemudian secara ramai- ramai warga memanfaatkan tumpahan minyak tersebut untuk dikais.

Kapolres Jepara AKBP Kamdani sempat turun ke lokasi. Bahkan, untuk mengamankan kapal tongkang di lokasi, Kapolres sampai harus menerjunkan satu truk anggota Samapta. Tidak satu pun warga yang berani naik ke kapal. Menurut Kasatpolair, AKP Yunaldi, untuk menyelamatkan sisa minyak, pemilik perusahaan akan mengirimkan kapal guna menyedot 3.000 ton yang masih tersisa di kapal. Sedangkan kapal tongkang yang kandas itu akan ditarik dengan take boat dari lokasi, yang tak jauh dari PLTU Tanjung Jati B.


BANDELAN