Topik
Kontrasepsi Pil dan Suntik Tidak Cocok untuk Waktu Lama
TEMPO Interaktif, Purwakarta - Badan Keluarga Berencana Perlindungan Ibu dan Anak Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengimbau para pemakai kontrasepsi pil dan suntik yang telah memiliki anak segera bermigrasi ke alat kontrasepsi jenis lain.
"Karena dua jenis kontrasepsi (pil dan suntik) itu berisiko menimbulkan efek samping yang berbahaya," kata Asep N. Kusmayadi, Kepala Bidang Keluarga Berencana Badan Keluarga Berencana Pelindungan Ibu dan Anak Kabupaten Purwakarta, saat dihubungi Tempo, Senin ( 25/1).
Efek samping yang biasanya muncul pada para pemakai kontrasepsi jenis suntik dan pil, kata Asep, misalnya rambut rontok, flek hitam pada kulit, varises, dan obesitas. "Kami sudah mendapatkan banyak keluhan soal adanya efek samping seperti itu," tutur Asep.
Kontasepsi jenis pil dan suntik itu memiliki efek samping karena keduanya mengandung obat kimia yang jika dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama bisa berakumulasi dan menimbulkan efek samping tersebut.
Dua jenis alat kontrasepsi yang dipopulerkan sejak periode 70-an tersebut lebih cocok buat para pasangan yang baru menikah dan menginginkan penundaan kehamilan, sedangkan buat pasangan yang sudah memiliki anak dua, menurut Asep, sudah tidak cocok lagi. "Sebab berisiko menimbulkan efek sampingnya itu."
Buat para pasangan yang sudah memiliki dua anak, kata Asep, lebih baik menggunakan alat kontrasepsi jenis vasektomi buat pria dan tubektomi serta spiral buat kaum wanita. "Saya pikir semua jenis kontrasepsi itu akan lebih nyaman dan aman dipakai, sebab tanpa mengandung efek samping," tutur Asep.
Namun, data yang diperoleh Tempo dari Badan Keluarga Berencana Perlindungan Ibu dan Anak menunjukkan pengguna pil dan suntik berada di rangking teratas para pasangan usia subur.
Dari jumlah 135.373 pasangan usia subur, yang menggunakan kontrasepsi suntik sebanyak 69.917 orang dan pil digunakan 45.573 orang. Sedangkan yang menggunakan vasektomi sebanyak 1.808 orang dan tubektomi 2.431 orang.
NANANG SUTISNA





