Topik
Infografis
Dua Warga Lumajang Meninggal karena Demam Berdarah
TEMPO Interaktif, Lumajang - Dua warga Lumajang, Jawa Timur, dilaporkan meninggal karena terserang demam berdarah dengue. Kedua warga tersebut berasal dari Kecamatan Kedungjajang dan Kecamatan Ranuyoso.
Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang Askap Hariyanto siang ini (25/1) mengatakan dua warga yang meninggal dunia tersebut terhitung pada Januari ini. "Per tanggal 25 Januari ini, dua orang meninggal dunia karena kasus DBD," kata Askap di kantornya siang ini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lumajang, kasus demam berdarah di Kabupaten Lumajang melonjak 100 persen dibandingkan pada November tahun lalu.
Pada November 2009, kasus demam berdarah di Lumajang sebanyak 39 kasus dengan angka meninggal nol. Angka ini meningkat menjadi 83 kasus pada Desember 2009 dengan angka korban meninggal nol. Sementara itu, per 25 Januari 2010 ini, jumlah kasus demam berdarah di Kabupaten Lumajang tercatat sebanyak 74 kasus dengan korban meninggal dua orang.
Askap mengungkapkan, peningkatan jumlah angka penderita demam berdarah ini dipicu oleh meningkatnya populasi nyamuk Aedes Aegypty. "Nyamuk ini selama bulan kemarau bertelur dan baru menetas pada musim hujan terutama pada genangan-genangan air," imbuh dia.
Sejauh ini, penanganan yang dilakukan Dinas Kesehatan adalah melakukan penyemprotan. "Setiap hari selama Januari ini kami melakukan pengasapan, terutama di daerah-daerah munculnya korban meninggal karena kasus ini," kata dia. Dari penyelidikan epidemologi (PE), kata Askap, pola hidup masyarakat yang menyebabkan meningkatnya kasus demam berdarah.
Pola hidup masyarakat tersebut adalah seperti jarangnya menguras kamar mandi. "Dari 100 rumah yang dilakukan PE, 65 hingga 75 yang bebas dari jentik-jentik," kata dia.
Idealnya, kata Askap, 95 persen yang harus terbebas dari jentik-jentik. Hasil penyelidikan epidemologi ini yang kemudian menunjukkan kalau kesadaran masyarakat terutama dalam mencegah timbulnya demam berdarah masih kurang.
DAVID PRIYASIDHARTA
Web via