Tambang Emas Poboya Makin Memprihatinkan

TEMPO Interaktif, Palu - Pertambangan emas di kawasan Pegunungan Poboya, Sulawesi Tengah, yang merupakan wilayah konsesi PT Citra Palu Minerals (CPM) semakin memprihatinkan. Pegunungan yang dulunya hijau, kini ‘telanjang’.

Pepohonan tak terlihat lagi dari kaki gunung sampai ke puncak gunung. Yang terlihat hanyalah bebatuan besar dan tanah. Puluhan penambang beraktivitas di lereng-lereng gunung. Luas kawasan tambang mencapai 35 ribu hektar, 25 ribu hektar diantaranya milik CPM.

Dari pantauan di lapangan, para penambang secara terus-menerus menggali dan mengangkut batu-batu turun dari pegunungan. Ada juga batu yang dibiarkan meluncur dari ketinggian sampai ke kaki gunung. Begitu pula puluhan truk dan pick-up, hilir mudik mengangkut ratusan karung batu dan dibawa ke tromol untuk diolah.

Parahnya lagi, aktivitas penambang tak hanya di lubang-lubang dan gunung, tapi juga di sungai. Akibatnya, aliran sungai yang dulunya deras, sekarang kian melambat. Sejumlah penambang juga mengaku hasil merka belum memuaskan.

‘’Saya hanya jual yang dalam karung saja. Biasanya sehari mampu membawa sampai sepuluh karung dan langsung dijual ke pembeli yang tidak punya lubang,’’ ujar Irfan, salah seorang penambang.

Warga Marawola itu mengaku,belum dapat memastikan setiap karung ada emasnya. ‘’Biasanya hanya dapat emas sedikit saja dengan kadar sampai 40 persen,’’ tambah Irfan.

Ris, penambang asal Manado, Sulawesi Utara, mengaku belum mendapat emas. ‘’Saya masih baru pak, masih berusaha mencari-cari,” kelitnya. Memang, bila para penambang ditanya, rata-rata mengaku baru mulai kerja dan belum mendapat emas. Tapi melihat dari kondisi pegunungan yang sudah rusak, sulit untuk dipercaya.

Eksekutif Daerah Walhi Sulawesi Tengah Willianita Selviana, Kamis siang (28/1), menegaskan kawasan tambang Poboya harusnya ditutup atau moratorium. ‘’Sejak lama kami sudah tegaskan agar tambang Poboya dimoratorium. Pemerintah daerah sepertinya membiarkan terjadinya perusakan secara terus menerus,’’ kata Lita, panggilan akrabnya.

Kini di Poboya, lanjut Lita, sudah ada bibit-bibit konflik. Dari hasil investigasi Walhi, ada 12 korban tewas di kawasan tersebut. Delapan tewas akibat tertimbun longsor dan gangguan pernafasan di lubang tambang. Ada juga yang tewas akibat saling bacok.

‘’Kalau terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan korban akan terus berjatuhan. Sayangnya, korban-korban di pertambangan kurang terekspos di media,’’ ujar Lita.

Namun, hal ini dibantah Ketua Tim Penanganan Tambang Emas Poboya Andi Mulhanan Tombolotutu. ‘’Sesuai dengan laporan polisi yang kami terima, sejauh ini belum ada korban yang jatuh akibat dampak tambang,’’ katanya.

DARLIS