indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Perajin Kuningan Mojokerto Keluhkan Naiknya Harga Bahan Baku

Perajin Kuningan Mojokerto Keluhkan Naiknya Harga Bahan Baku

Dua pekerja sedang menyelesaikan patung dari kuningan yang akan dikirim ke Bali dan Australia di Dusun Sanan Selatan, Jombang, Jawa Timur (5/10). Dari 48 perajin, kini tinggal 4 yang masih bertahan. Foto: ANTARA/Syaiful Arif

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kendati pesanan produk bahan kuningan tak surut, namun perajin di Mojokerto, Jawa Timur saat ini mulai mengeluhkan naiknya harga bahan baku, seperti harga logam dan lilin (parafin).

Kenaikkan harga terjadi sekitar lima hari belakangan. Harga logam lima hari kemrain hanya Rp 30 ribu per kilogram, namun kini naik menjadi Rp 40 ribu perkilo. Harga lilin juga demikian. Jika lima hari lalu harga lilin satu kilo hanya Rp 15 ribu, kini naik menjadi Rp 20 ribu.

”Pemerintah harus menyelesaikan masalah ini,” kata Ketua Koperasi Komunitas Pengrajin Kuningan Ganesa, Kecamatan Trowulan, Supriyadi, Minggu (31/1). Hal itu mempengaruhi omzet perajin. Jika dalam satu bulan penghasilan bersih mencapai Rp 25 juta, kini hanya Rp 15 juta. Omzet turun bukan karena sepi order, tapi karena naiknya bahan baku.

Dampak berbeda dirasakan perajin dan pedagang manik-manik di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Saat ini, produk kerajinan manik-manik tengah lesu karena gempuran produk Cina. Sebut saja manik-manik kalung, cincin, gelang, dan anting-anting.

Di Jombang, produk manik-manik ini kalah bersaing. Selain harga lebih murah, kualitas produk Cina lebih unggul.” Belum banyak (produk Cina) saja, kita sudah terpengaruh. Apalagi kalau sudah banyak,” keluh Srianah, perajin manik-manik asal Gudo, Jombang.

Srianah mengaku usahanya mengalami kesulitan semenjak tahun lalu karena kalah bersaing dengan manik-manik asal Cina. Menurutnya, teknologi canggih yang digunakan oleh Cina dalam membuat produk menjadikan barang hasil olahan negeri tirai bambu ity lebih berkualitas daripada produk lokal.

Bahkan, Pujiono, pengrajin sekaligus penjual merugi hingga 50 persen. Besarnya biaya produksi tak sebanding dengan hasil penjualan produk.

Sebab itu, dia berencana merumahkan beberapa karyawanya.”Dari 10 karyawan saya gunakan 8 saja, yang lain saya berhentikan dulu,” kata dia.

MUHAMMAD TAUFIK

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X